Minggu, 19 Juli 2009
Timbulkan Infeksi
Tak hanya obat suntik yang banyak dijanjikan dapat menambah ukuran alat vital. Bentuk obat lainnya adalah olesan dengan minyak atau bahan tertentu juga ternyata tidak mampu menambah ukuran alat vital. Walaupun bisa hanya bersifat sementara layaknya bengkak usia digigit semut atau nyamuk. Dokter spesialis andrologi, Prof Randanan Bandaso mengungkapkan, obat oles juga tidak memiliki pengaruh yang baik bagi alat vital. Meksipun dapat memperbesar, tapi hanya sesaat. "Ya seperti digigit serangga. Besarnya penis juga sementara saja. Lalu kembali ke ukuran normal lagi," tandasnya. Bahkan, kata Randana, infeksi bisa saja terjadi. Apalagi yang melakukan terapi tidak memiliki basic medis dan alat-alat yang digunakan tidak steril. Meski dibersihkan, tapi belum tentu aman dari virus penyebab penyakit kelamin menular. "Semua perlakuan terhadap alat vital yang tidak steril dan sesuai standar, bisa saja menyebabkan infeksi. Semua infeksi bisa ada. Bahkan bisa mengalami sifilis atau gonorhoe," tandasnya. Menurut Randanan, sebenarnya pria tak perlu merasa kecil hati jika ukuran alat vitalnya tak besar. Sebab, meski dengan ukuran yang pas-pasan bahkan lebih kecil asalkan bisa ereksi (mengeras) justru lebih membahagiakan sang istri. "Tak perlu besar yang penting bisa berfungsi dengan baik dan ereksi. Daripadi menambah ukuran tapi dampaknya justru akan membahayakan ereksi itu sendiri. Kan sama saja, "ujar Randanan. Cara yang aman dan dapat menambah ukuran alat vital, katanya, dengan menggunakan kaca pembesar dan melihat penis di bawah kaca pembesar. (angriani.s.ugart/fajar)
Dampak Memperbesar Alat Vital
TAK asing lagi jika iklan mampu memperkuat stamina seks hingga memperbesar alat vital cukup menggiurkan sebagian pria. Tak sedikit yang terpengaruh. Padahal, sebenarnya tak ada cara yang mampu memperbesar alat vital. Malah efeknya dapat menimbulkan disfungsi ereksi alis impoten. Mungkin Anda pernah mendengar ada iklan yang menawarkan suntik minyak atau silikon dapat memperbesar dan menambah panjang penis pria. Benarkah suntik silikon aman dilakukan. Pakar andrologi lulusan Monas University, Melbourne, Prof Dr Randanan Bandaso, MSc, DFFM, SpPA (K), SpF, SpAnd, mengungkapkan, cukup banyak pria yang berkeinginan memperbesar alat vital dengan suntik silikon. Efek besar dan panjang memang terlihat. Tapi efek yang bisa muncul justru akan berbahaya. "Suntik silikon memang dapat merangsang terbentuknya jaringan ikat pada penis sehingga terlihat besar. Tapi silikon dapat merusak pembuluh darah sehingga dapat menyebabkan disfungsi ereksi atau dikenal impoten. Itu kan lebih bahaya lagi bagi seorang pria," ujar Randanan. Anggota IDI Sulsel ini membeberkan banyak pasiennya yang menyesal menambah alat vital dengan suntik silikon maupun cara lainnya. Apalagi tak hanya dapat menyebabkan disfungsi ereksi, cairan silikon kata Randanan, juga bisa turun ke biji pelir atau testis. Akibatnya pria tersebut bisa mandul. "Jadi, kalau sudah dewasa sebenarnya tak perlu lagi memperbesar penis. Syukuran apa yang diberikan Tuhan. Lagipula calon istri kan tidak mengajukan syarat pria harus berpenis besar baru mau diajak menikah kan?," ujar mantan Kepala Bagian Patologi Anatomi FK Unhas ini. Berbeda jika usia masih anak-anak maksimal 13 tahun, ukuran penis yang kecil masih bisa diperbesar dengan bantuan hormon. Selebihnya tidak bisa dan tidak aman bagi reproduksi seorang pria.(nin)
TAK asing lagi jika iklan mampu memperkuat stamina seks hingga memperbesar alat vital cukup menggiurkan sebagian pria. Tak sedikit yang terpengaruh. Padahal, sebenarnya tak ada cara yang mampu memperbesar alat vital. Malah efeknya dapat menimbulkan disfungsi ereksi alis impoten. Mungkin Anda pernah mendengar ada iklan yang menawarkan suntik minyak atau silikon dapat memperbesar dan menambah panjang penis pria. Benarkah suntik silikon aman dilakukan. Pakar andrologi lulusan Monas University, Melbourne, Prof Dr Randanan Bandaso, MSc, DFFM, SpPA (K), SpF, SpAnd, mengungkapkan, cukup banyak pria yang berkeinginan memperbesar alat vital dengan suntik silikon. Efek besar dan panjang memang terlihat. Tapi efek yang bisa muncul justru akan berbahaya. "Suntik silikon memang dapat merangsang terbentuknya jaringan ikat pada penis sehingga terlihat besar. Tapi silikon dapat merusak pembuluh darah sehingga dapat menyebabkan disfungsi ereksi atau dikenal impoten. Itu kan lebih bahaya lagi bagi seorang pria," ujar Randanan. Anggota IDI Sulsel ini membeberkan banyak pasiennya yang menyesal menambah alat vital dengan suntik silikon maupun cara lainnya. Apalagi tak hanya dapat menyebabkan disfungsi ereksi, cairan silikon kata Randanan, juga bisa turun ke biji pelir atau testis. Akibatnya pria tersebut bisa mandul. "Jadi, kalau sudah dewasa sebenarnya tak perlu lagi memperbesar penis. Syukuran apa yang diberikan Tuhan. Lagipula calon istri kan tidak mengajukan syarat pria harus berpenis besar baru mau diajak menikah kan?," ujar mantan Kepala Bagian Patologi Anatomi FK Unhas ini. Berbeda jika usia masih anak-anak maksimal 13 tahun, ukuran penis yang kecil masih bisa diperbesar dengan bantuan hormon. Selebihnya tidak bisa dan tidak aman bagi reproduksi seorang pria.(penulis:angriani.s.ugart/fajar)
Jangan Remehkan Nyeri Haid
Jangan Remehkan Nyeri Haid
NYERI haid kerap dikeluhkan kaum perempuan. Bahkan ada yang sampai tak bisa masuk kerja karena sakitnya. Hati-hati, bisa jadi Anda termasuk perempuan yang mengidap endometriosis.
Endometriosis merupakan suatu penyakit yang kronik, dan sering dijumpai dan mempengaruhi jutaan wanita di seluruh dunia. Penyebabnya sendiri hingga saat ini belum diketahui dengan pasti sehingga sering disebut penyakit yang penuh dengan teori. Oleh karena itu sampai sekarang ini endometriosis merupakan teka-teki yang membuat frustrasi penderita maupun dokter yang menanganinya. Hal ini disebabkan karena sering beratnya gejala atau dampak yang diakibatkannya tidak sesuai dengan beratnya penyakit. Apalagi terkadang endometriosis ringan saja sudah meyebabkan kesulitan wanita untuk hamil. Menurut dokter spesialis kandungan pada Poliklinik Kemandulan dan Ketua Tim Bayi Tabung Unit Pelayanan Reproduksi Manusia RS Wahidin Sudirohusodo (RSWS) Makassar, Dr dr Nusratuddin Abdullah, SpOG (KE), dikatakan endometriosis jika suatu jaringan yang biasanya secara normal tumbuh dalam rahim (disebut endometrium) tiba-tiba tumbuh di luar rahim. Bahkan jaringan itu bisameluas ke mana-mana tidak hanya terbatas pada sekitar organ-organ rahim atau rongga panggul tapi bisa juga ke paru-paru, payudara dan organ-organ lain. "Endometriosis biasanya akan mempengaruhi wanita dalam usia reproduksi yaitu wanita yang masih mengalami menstruasi. Penyakit ini bisa terjadi setiap saat mulai periode umur menstruasi sampai menopause," ujar pria kelahiran Parepare, 25 Desember 1961 ini. Banyak para ahli sepakat bahwa endometriosis lebih sering ditemukan pada wanita yang belum punya anak. Bahkan beberapa diantaranya menyatakan bahwa menikah pada usia muda akan mencegah terjadinya penyakit ini. Tapi menurut Nusra, demikian ia disapa, hal tersebut tidak sepenuhnya benar karena banyak wanita yang sudah punya anak juga menderita endometriosis. Angka kejadian penyakit ini lebih tinggi pada ras kulit putih dibandingkan dengan kulit berwarna, sekira 10-25 persen perempuan di Amerika dan Inggris menderita endometriosis. Kecenderungan wanita di negara barat untuk kawin di usia lanjut akan mempertinggi resiko terjadinya penyakit ini. Bagaimana endometriosis terjadi? Dosen Fakultas Kedokteran Unhas ini mengungkapkan, sel endometrium (jaringan yang membentuk struktur lapisan dalam rahim) bertumbuh dan berfungsi di luar rahim masih belum diketahui dengan pasti. Salah satu teori yang sangat relevan dan umum diterima adalah teori menstrusi retrograde, dimana sebagian darah haid yang bercampur dengan sel sel endometrium bergerak kembali ke tuba dan keluar ke rongga perut melalui saluran tuba saat siklus menstrusi normal. "Sel sel ini kemudian tertanam pada organ-organ panggul bahkan ke organ-organ lain seperti paruparu, payudara dan otak. Karena endometriosis ini dibentuk oleh sel yang sama dengan endometrium, maka fragmen ini akan berespon terhadap hormon-hormon yang mempengaruhi menstruasi," ujar konsultan FER (Fertilitas Endokrinologi Reproduksi) dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini. Namun demikian, lanjutnya, pendarahan yang disebabkan oleh endometriosis ini akan berdampak di organ-organ yang dihinggapinya karena tidak punya jalan keluar, sebagaimana layaknya endometrium normal dalam rahim yang setiap periode menstruasi dikeluarkan melalui vagina. (penulis: angriani s.ugart/fajar)
NYERI haid kerap dikeluhkan kaum perempuan. Bahkan ada yang sampai tak bisa masuk kerja karena sakitnya. Hati-hati, bisa jadi Anda termasuk perempuan yang mengidap endometriosis.
Endometriosis merupakan suatu penyakit yang kronik, dan sering dijumpai dan mempengaruhi jutaan wanita di seluruh dunia. Penyebabnya sendiri hingga saat ini belum diketahui dengan pasti sehingga sering disebut penyakit yang penuh dengan teori. Oleh karena itu sampai sekarang ini endometriosis merupakan teka-teki yang membuat frustrasi penderita maupun dokter yang menanganinya. Hal ini disebabkan karena sering beratnya gejala atau dampak yang diakibatkannya tidak sesuai dengan beratnya penyakit. Apalagi terkadang endometriosis ringan saja sudah meyebabkan kesulitan wanita untuk hamil. Menurut dokter spesialis kandungan pada Poliklinik Kemandulan dan Ketua Tim Bayi Tabung Unit Pelayanan Reproduksi Manusia RS Wahidin Sudirohusodo (RSWS) Makassar, Dr dr Nusratuddin Abdullah, SpOG (KE), dikatakan endometriosis jika suatu jaringan yang biasanya secara normal tumbuh dalam rahim (disebut endometrium) tiba-tiba tumbuh di luar rahim. Bahkan jaringan itu bisameluas ke mana-mana tidak hanya terbatas pada sekitar organ-organ rahim atau rongga panggul tapi bisa juga ke paru-paru, payudara dan organ-organ lain. "Endometriosis biasanya akan mempengaruhi wanita dalam usia reproduksi yaitu wanita yang masih mengalami menstruasi. Penyakit ini bisa terjadi setiap saat mulai periode umur menstruasi sampai menopause," ujar pria kelahiran Parepare, 25 Desember 1961 ini. Banyak para ahli sepakat bahwa endometriosis lebih sering ditemukan pada wanita yang belum punya anak. Bahkan beberapa diantaranya menyatakan bahwa menikah pada usia muda akan mencegah terjadinya penyakit ini. Tapi menurut Nusra, demikian ia disapa, hal tersebut tidak sepenuhnya benar karena banyak wanita yang sudah punya anak juga menderita endometriosis. Angka kejadian penyakit ini lebih tinggi pada ras kulit putih dibandingkan dengan kulit berwarna, sekira 10-25 persen perempuan di Amerika dan Inggris menderita endometriosis. Kecenderungan wanita di negara barat untuk kawin di usia lanjut akan mempertinggi resiko terjadinya penyakit ini. Bagaimana endometriosis terjadi? Dosen Fakultas Kedokteran Unhas ini mengungkapkan, sel endometrium (jaringan yang membentuk struktur lapisan dalam rahim) bertumbuh dan berfungsi di luar rahim masih belum diketahui dengan pasti. Salah satu teori yang sangat relevan dan umum diterima adalah teori menstrusi retrograde, dimana sebagian darah haid yang bercampur dengan sel sel endometrium bergerak kembali ke tuba dan keluar ke rongga perut melalui saluran tuba saat siklus menstrusi normal. "Sel sel ini kemudian tertanam pada organ-organ panggul bahkan ke organ-organ lain seperti paruparu, payudara dan otak. Karena endometriosis ini dibentuk oleh sel yang sama dengan endometrium, maka fragmen ini akan berespon terhadap hormon-hormon yang mempengaruhi menstruasi," ujar konsultan FER (Fertilitas Endokrinologi Reproduksi) dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini. Namun demikian, lanjutnya, pendarahan yang disebabkan oleh endometriosis ini akan berdampak di organ-organ yang dihinggapinya karena tidak punya jalan keluar, sebagaimana layaknya endometrium normal dalam rahim yang setiap periode menstruasi dikeluarkan melalui vagina. (penulis: angriani s.ugart/fajar)
Menjelang Persalinan Silakan Bercinta
Jika pada usia kehamilan muda tidak disarankan melakukan hubungan seks, lantas kapan waktu yang tepat? Menurut dr Eddy Hartono, SpOG(K), ketika usia kehamilan (janin) di atas 16 minggu (tiga bulan) adalah waktu yang aman untuk bercinta. Alasannya, kondisi rahim sudah mulai sedikit kuat meski masih rawan bagi ibu hamil yang memiliki riwayat pendarahan dan keguguran. Berhubungan seks pada trimester ketiga atau usia kehamilan tujuh hingga sembilan bulan justru dibolehkan. Karena sperma diharapkan dapat memicu kontraksi dan melancarkan persalinan. Menurut Eddy, kontraksi sendiri dapat mendorong anak menuju mulut rahim yang perlahan membuka sehingga bayi akan lahir. Biasanya jika usia kandungan sudah cukup dan bayi belum lahir, dokter biasanya menginstruksikan agar pasangan melakukan hubungan seks untuk merancang kontraksi rahim. "Sperma mengandunghormon prostaglandin yang dapat memacu kontraksi. Jadi, tidak apa-apa berhubungan seks. Tapi, kalau kandungan masih pada trimester pertama, misalnya usia satu dua, atau tiga bulan sebaiknya hindari agar tidak terjadi keguguran,"ujar dr Eddy, yang juga tim Bayi Tabung dari RSWS ini. Saat kehamilan tua, janin mulai matang dan siap dilahirkan. Menurut Eddy, hubungan seks sebaiknya atas keinginan suami istri termasuk pengaturan posisi bercinta yang nyaman bagi si ibu. Eddy menjelaskan, hubungan intim tetap bisa dilakukan tetapi dengan posisi tertentu dan lebih hati-hati.Hubungan intim akan lebih aman bila sudah memasuki trimester kedua, di mana janin sudah mulai besar, sudah keluar dari rongga panggul, dan ari-ari sudah melekat pada dinding rahim, sehingga umumnya tidak mengganggu saat hubungan intim. "Jadi, silakan saja berhubungan seks tapi kalau sudah masa aman, yakni kehamilan trimester akhir," ujarnya. (angriani s.ugart/fajar)
Posisi Seks yang Nyaman
Sebenarnya tak ada aturan mengenai posisi hubungan seks saat sedang hamil. Yang jelas harus aman bagi si jabang bayi dan juga nyaman bagi si ibu dan suami. Menurut seksolog Prof Dr dr Randanan Bandaso, SpAnd, ibu-ibu dan suami boleh memilih posisi apa saja. Tapi senada dengan dokter spesialis kandungan, Randanan juga tidak menyarankan hubungan seks saat kehamilan muda. "Posisi apa saja yang penting pasangan nyaman dan bayi aman.Tapi kalau kandungan masih muda, dan memang tidak kuat rahimnya, jangan lalukan hubungan seks. Bisa keguguran," pesannya. Menurut alumni Fakultas Kedokteran Unhas, posisi seks sebenarnya suka sama suka alias atas kesepakatan pasangan suami istri. Tanpa ada paksaan baik dari istri maupun suami. Dengan begitu, hubungan seks bisa dinikmati dengan baik. Jika ibu hamil memiliki rahim yang kuat, menurut Randanan, bisa saja melakukan hubungan seks. Tapi lebih amannya, dia menyarankan setelah kehamilan di atas tiga bulan. Posisi suami di atas atau istri di atas menurut Randanan, boleh-boleh saja. Sepanjang keduanya sama-sama suka dan bisa mengontrol diri. "Posisi seperti biasa, bisa dilakukan. Misalnya istri di bawah atau istri di atas, bahkan menyamping bisa saja dilakukan," ujar Randanan. "Tapi kalau rahimnya cukup kuat," tambahnya. Bagaimana posisi bercinta pada kehamilan tua ketika perut mulai membesar? Lagi-lagi Randanan mengatakan, posisi seks bisa diatur agar perut ibu hamil tidak tertekan. Salah posisi seks yang bisa dilakukan adalah istri berbaring di tempat tidur dan suami di tepi ranjang berlutut. Sehingga tubuh suami tidak terlalu memberi penekanan pada perut ibu. "Yang penting saat perut mulai besar, hindari memberi tekanan berlebihan. Intinya, pilih posisi seks yang tidak menekan perut ibu hamil," ujar Randanan. Selain posisi suami berlutut di tepi pembaringan, posisi seks yang aman dan nyaman dilakukan saat hamil tua adalah menyamping atau woman on top (wanita di atas). Bila posisi menyamping bisa saling berhadapan atau dari belakang. (nin)
Seks saat Hamil
Tunda Seks Saat Hamil Muda
GELORA bercinta biasanya justru tumbuh saat seorang wanita sedang mengandung. Tapi, tak semua perempuan aman melakukan seks saat hamil. Lantas, kapan bercinta itu bisa dilakukan? Sebagian masyarakat percaya bahwa bercinta saat hamil sah-sah saja dilakukan. Apalagi, saat memasuki usia kandungan sudah tua. Melakukan hubungan seks saat menanti kelahiran bayi dipercaya mampu memuluskan persalinan.
Dalam agama Islam pun dikatakan, keinginan suami untuk berhubungan intim sebaiknya tidak ditolak oleh istri. Tapi bagaimana dari segi medis? Amankah bercinta dilakukan saat hamil? Benarkah hubungan intim dapat mempermudah kelahiran. Usia kehamilan dibagi menjadi tiga periode yang disebut trimester. Pada trimester pertama, dihitung pada kehamilan berusia satu sampai tiga bulan. Tiga bulan selanjutnya disebut trimester kedua. Usia kehamilan bulan ketujuh hingga ke sembilan disebut juga trimester ketiga. Menurut dokter kebidanan dan kandungan, Eddy Hartono dari Subbagian Fertilitas dan Endokrinologi Bagian Obstetri dan Ginekologi (Obgin) FK Unhas/RS Wahidin Sudirohusodo (RSWS) Makassar, sebenarnya, hubungan suami istri saat hamil bisa saja dilakukan. Tapi bagi perempuan yang memiliki kandungan yang tidak kuat, sangat tidak dianjurkan melakukan hubungan seks, apalagi jika usia kandungan baru berusia satu hingga tiga bulan. "Sebenarnya berhubungan intim bisa dilakukan saat ibu sedang hamil. Tapi itu bisa dilakukan kalau sudah lewat dari trimester pertama atau usia kehamilan masih muda. Sebab pada kehamilan muda, rahim bisa kontraksi sehingga rawan keguguran," ujar Eddy. Menurut dokter yang juga bertugas di RS Elim Makassar ini, bercinta saat usia kandungan masih muda tidak dianjurkan karena sperma dapat memicu kontraksi rahim. Dalam sperma mengandung hormon bernama prostaglandin yang dapat memicu kontraksi. Jika rahim berkontraksi maka jabang bayi yang masih muda bisa saja gugur. Eddy mewanti-wanti agar ibu-ibu hamilyang memiliki riwayat perdarahan dan keguguran tidak berhubungan intim demi menjaga si jabang bayi. Sebab, sperma yang masuk ke rahim dapat merangsang terjadinya kontraksi pada rahim sehingga dapat menyebabkan kelahiran dini alias keguguran. Bahkan menurut Eddy, bagi ibu-ibu yang memiliki plasenta previa atau posisi plasenta di bawah dilarang berhubungan seks selama kehamilan. Sebab, akan membahayakan ibu dan calon bayinya. Bagaimana ibu hamil yang tidak punya riwayat keguguran? "Ibu-ibu yang tidak punya riwayat keguguran dan perdarahan juga sebenarnya tidak disarankan berhubungan seks. Tapi kalau memang mau bercinta, jangan terlalu hot. Sperma juga sebaiknya jangan tumpah di dalam," sarannya. (nin)
GELORA bercinta biasanya justru tumbuh saat seorang wanita sedang mengandung. Tapi, tak semua perempuan aman melakukan seks saat hamil. Lantas, kapan bercinta itu bisa dilakukan? Sebagian masyarakat percaya bahwa bercinta saat hamil sah-sah saja dilakukan. Apalagi, saat memasuki usia kandungan sudah tua. Melakukan hubungan seks saat menanti kelahiran bayi dipercaya mampu memuluskan persalinan.
Dalam agama Islam pun dikatakan, keinginan suami untuk berhubungan intim sebaiknya tidak ditolak oleh istri. Tapi bagaimana dari segi medis? Amankah bercinta dilakukan saat hamil? Benarkah hubungan intim dapat mempermudah kelahiran. Usia kehamilan dibagi menjadi tiga periode yang disebut trimester. Pada trimester pertama, dihitung pada kehamilan berusia satu sampai tiga bulan. Tiga bulan selanjutnya disebut trimester kedua. Usia kehamilan bulan ketujuh hingga ke sembilan disebut juga trimester ketiga. Menurut dokter kebidanan dan kandungan, Eddy Hartono dari Subbagian Fertilitas dan Endokrinologi Bagian Obstetri dan Ginekologi (Obgin) FK Unhas/RS Wahidin Sudirohusodo (RSWS) Makassar, sebenarnya, hubungan suami istri saat hamil bisa saja dilakukan. Tapi bagi perempuan yang memiliki kandungan yang tidak kuat, sangat tidak dianjurkan melakukan hubungan seks, apalagi jika usia kandungan baru berusia satu hingga tiga bulan. "Sebenarnya berhubungan intim bisa dilakukan saat ibu sedang hamil. Tapi itu bisa dilakukan kalau sudah lewat dari trimester pertama atau usia kehamilan masih muda. Sebab pada kehamilan muda, rahim bisa kontraksi sehingga rawan keguguran," ujar Eddy. Menurut dokter yang juga bertugas di RS Elim Makassar ini, bercinta saat usia kandungan masih muda tidak dianjurkan karena sperma dapat memicu kontraksi rahim. Dalam sperma mengandung hormon bernama prostaglandin yang dapat memicu kontraksi. Jika rahim berkontraksi maka jabang bayi yang masih muda bisa saja gugur. Eddy mewanti-wanti agar ibu-ibu hamilyang memiliki riwayat perdarahan dan keguguran tidak berhubungan intim demi menjaga si jabang bayi. Sebab, sperma yang masuk ke rahim dapat merangsang terjadinya kontraksi pada rahim sehingga dapat menyebabkan kelahiran dini alias keguguran. Bahkan menurut Eddy, bagi ibu-ibu yang memiliki plasenta previa atau posisi plasenta di bawah dilarang berhubungan seks selama kehamilan. Sebab, akan membahayakan ibu dan calon bayinya. Bagaimana ibu hamil yang tidak punya riwayat keguguran? "Ibu-ibu yang tidak punya riwayat keguguran dan perdarahan juga sebenarnya tidak disarankan berhubungan seks. Tapi kalau memang mau bercinta, jangan terlalu hot. Sperma juga sebaiknya jangan tumpah di dalam," sarannya. (nin)
Sabtu, 21 Maret 2009
Penyakit RADANG USUS BUNTU
Biji-bijian Dapat Menyebabkan Appendicitis
ADA anggapan masyarakat, bahwa jika kerap mengonsumsi makanan biji-bijian seperti biji cabai, tomat ataupun jambu klutuk, maka kita mudah kena radang usus buntu. Usus buntu juga dikatakan tak memiliki fungsi apa-apa. Benarkah demikian?
Usus buntu ternyata memiliki fungsi penting bagi tubuh. Bentuk usus buntu alias umbai cacing atau istilah kedokterannya Appendix hanya berbentuk kantung kecil yang melekat pada usus besar tepat di ujung usus halus. Panjangnya hanya sekira 8 cm, ukurannya juga lebih kecil dari usus halus.
Tapi, fungsinya lumayan penting karena usus buntu bertugas mengatur mekanisme pertahanan tubuh. Sama dengan amandel (tonsil) dan kelenjar getah bening, usus buntu juga berisi kelenjar limfoid yang berfungsi sebagai pertahanan tubuh untuk mengusir bibit penyakit. Kelenjar limfoid usus buntu tersebut akan membengkak bila meradang.
Peradangan usus buntu disebut juga Appendicitis. Menurut dokter spesialis bedah digestif, Murny Abdul Rauf, radang usus buntu dapat menyerang siapa saja, mulai bayi hingga orang tua. Menurut Murny, radang bisa mengenai siapa saja jika terjadi sumbatan pada appendiks.
"Sumbatan bisa terjadi karena ada sesuatu yang masuk ke dalam usus buntu. Sesuatu bisa karena kotoran atau tinja manusia yang keras atau fekalit masuk. Bisa juga biji-bijian, bakteri dan cacing juga bisa masuk ke usus buntu. Bisa juga karena faktor luar, ada sesuatu yang menjerat usus buntu. Biasanya karena faktor bawaan," ujar dokter dari Divisi Bedah Saluran Cerna Bagian Bedah FK Unhas/RS Wahidin Sudirohusodo (RSWS) Makassar di ruang kerjanya, Kamis 19 Maret.
Usus buntu yang tersumbat akan makin membesar. Di tempat itu bakteri dapat berkembang biak, menimbulkan infeksi. Perlu diketahui bahwa dalam tinja kita sangat mungkin sekali telah tercemari oleh bakteri Escherichia Coli alias E Coli. Inilah yang sering kali mengakibatkan infeksi yang berakibat radang usus buntu terjadi.
Makan cabai bersama bijinya, kata Murny, kadang tidak dicerna dalam tinja dan bisa masuk ke saluran appendiks sebagai benda asing. Begitu pula terjadinya pengerasan tinja karena konstipasi dalam waktu lama sangat mungkin ada bagiannya yang terselip masuk kesaluran appendiks yang pada akhirnya menjadi media kuman/bakteri bersarang dan berkembang biak sebagai infeksi.
Cacingan pun perlu diwaspadai. Jika cacing yang beternak di dalam usus besar nyasar memasuki usus buntu maka dapat menimbulkan apendicitis.
Menurut lulusan Fakultas Kedokteran Unhas ini, jika sumbatan terjadi dalam enam jam, usus buntu akan merah dan membengkak disebut juga Appendicitis akut.
"Jika tak ditangani atau dioperasi maka usus buntu bisa bernanah. Bahkan bisa terjadi infiltrat yakni ada massa di sekitar usus buntu membungkusnya agar tidak pecah. Bahkan bisa membuat usus buntu akan pecah atau perforasi. Infeksi pun akan meluas," beber dokter yang juga bertugas di RS Grestelina ini.
Jika usus buntu bernanah, maka biasanya dokter akan mengeluarkan nanah tersebut. "Radang pada usus buntu harus segera dioperasi apalagi kalau appendicitis akut. Lebih baik diangkat daripada pecah dapat menyebabkan kematian," ujar Murny. (*
Laporan: Angriani S. Ugart
ADA anggapan masyarakat, bahwa jika kerap mengonsumsi makanan biji-bijian seperti biji cabai, tomat ataupun jambu klutuk, maka kita mudah kena radang usus buntu. Usus buntu juga dikatakan tak memiliki fungsi apa-apa. Benarkah demikian?
Usus buntu ternyata memiliki fungsi penting bagi tubuh. Bentuk usus buntu alias umbai cacing atau istilah kedokterannya Appendix hanya berbentuk kantung kecil yang melekat pada usus besar tepat di ujung usus halus. Panjangnya hanya sekira 8 cm, ukurannya juga lebih kecil dari usus halus.
Tapi, fungsinya lumayan penting karena usus buntu bertugas mengatur mekanisme pertahanan tubuh. Sama dengan amandel (tonsil) dan kelenjar getah bening, usus buntu juga berisi kelenjar limfoid yang berfungsi sebagai pertahanan tubuh untuk mengusir bibit penyakit. Kelenjar limfoid usus buntu tersebut akan membengkak bila meradang.
Peradangan usus buntu disebut juga Appendicitis. Menurut dokter spesialis bedah digestif, Murny Abdul Rauf, radang usus buntu dapat menyerang siapa saja, mulai bayi hingga orang tua. Menurut Murny, radang bisa mengenai siapa saja jika terjadi sumbatan pada appendiks.
"Sumbatan bisa terjadi karena ada sesuatu yang masuk ke dalam usus buntu. Sesuatu bisa karena kotoran atau tinja manusia yang keras atau fekalit masuk. Bisa juga biji-bijian, bakteri dan cacing juga bisa masuk ke usus buntu. Bisa juga karena faktor luar, ada sesuatu yang menjerat usus buntu. Biasanya karena faktor bawaan," ujar dokter dari Divisi Bedah Saluran Cerna Bagian Bedah FK Unhas/RS Wahidin Sudirohusodo (RSWS) Makassar di ruang kerjanya, Kamis 19 Maret.
Usus buntu yang tersumbat akan makin membesar. Di tempat itu bakteri dapat berkembang biak, menimbulkan infeksi. Perlu diketahui bahwa dalam tinja kita sangat mungkin sekali telah tercemari oleh bakteri Escherichia Coli alias E Coli. Inilah yang sering kali mengakibatkan infeksi yang berakibat radang usus buntu terjadi.
Makan cabai bersama bijinya, kata Murny, kadang tidak dicerna dalam tinja dan bisa masuk ke saluran appendiks sebagai benda asing. Begitu pula terjadinya pengerasan tinja karena konstipasi dalam waktu lama sangat mungkin ada bagiannya yang terselip masuk kesaluran appendiks yang pada akhirnya menjadi media kuman/bakteri bersarang dan berkembang biak sebagai infeksi.
Cacingan pun perlu diwaspadai. Jika cacing yang beternak di dalam usus besar nyasar memasuki usus buntu maka dapat menimbulkan apendicitis.
Menurut lulusan Fakultas Kedokteran Unhas ini, jika sumbatan terjadi dalam enam jam, usus buntu akan merah dan membengkak disebut juga Appendicitis akut.
"Jika tak ditangani atau dioperasi maka usus buntu bisa bernanah. Bahkan bisa terjadi infiltrat yakni ada massa di sekitar usus buntu membungkusnya agar tidak pecah. Bahkan bisa membuat usus buntu akan pecah atau perforasi. Infeksi pun akan meluas," beber dokter yang juga bertugas di RS Grestelina ini.
Jika usus buntu bernanah, maka biasanya dokter akan mengeluarkan nanah tersebut. "Radang pada usus buntu harus segera dioperasi apalagi kalau appendicitis akut. Lebih baik diangkat daripada pecah dapat menyebabkan kematian," ujar Murny. (*
Laporan: Angriani S. Ugart
GAGAP
Dapat Pengaruhi Intelektual Anak
Umumnya anak yang berusia dua tahun sudah dapat berbicara, namun pada anak yang menampakkan tanda-tanda gagap, terlihat sulit untuk berbicara. Bahkan meski sudah memasuki usia 3 tahun, bahasanya masih sepotong-potong.
Untuk itu orangtua harus mengantisipasi fungsi berbahasa, ucapan anak sejak dini ke dokter anak maupun psikiater anak yang bertugas di beberapa rumah sakit.
"Jika orangtua tidak tahu dan tidak diterapi sejak dini misalnya dengan terapi berbicara maka gagap anak kemungkinan akan terbawa sampai dewasa. Dampaknya, akan mempengaruhi kecerdasan anak di masa yang akan datang. Anak jadi kurang cerdas," ujar dr Djayalangkara Tanra, SpKJ, Konsultan dari RS Dadi Makassar.
Makin dini diterapi, ujar Djayalangkara, maka kemungkinan anak sembuh juga makin besar.
Ada beberapa jenis gagap menurut fasenya. Ada gagap perkembangan, gagap sementara, dan gagap menetap. Gagap perkembangan biasanya terjadi pada usia 2-4 tahun. Kondisi ini tergolong wajar, karena merupakan rangkaian proses perkembangan bicara sang anak.
Ini bisa saja terjadi karena ketidaksinkronan emosi anak dengan pengaturan alat bicara saat berbicara. Gagap perkembangan biasanya akan sembuh dengan sendirinya seiring bertambahnya usia anak.
Adapun gagap sementara biasanya terjadi pada anak berusia 5-8 tahun. Gagap ini dapat terjadi karena faktor psikologis dari lingkungan, misal kecemasan, kepanikan, ketakutan. Jenis gagap ini akan lenyap sendiri meskipun tanpa terapi tertentu. Sebagai orang tua, kita hanya perlu bersabar dan jangan memarahi anak ketika menunjukkan gejala gagap.
Lain halnya dengan gagap menetap yang biasanya menimpa anak usia 8 tahun sampai dewasa, bahkan sampai usia lanjut. Jika terapi gagap tidak sembuh tuntas maka akan berlanjut hingga dewasa.
Penyebabnya karena psikologis, misal karena stres, kecemasan berlebihan, takut salah bicara, merasa rendah diri, merasa suaranya kurang enak didengar, merasa tidak percaya diri, dan faktor psikologis lainnya. (nin)
Umumnya anak yang berusia dua tahun sudah dapat berbicara, namun pada anak yang menampakkan tanda-tanda gagap, terlihat sulit untuk berbicara. Bahkan meski sudah memasuki usia 3 tahun, bahasanya masih sepotong-potong.
Untuk itu orangtua harus mengantisipasi fungsi berbahasa, ucapan anak sejak dini ke dokter anak maupun psikiater anak yang bertugas di beberapa rumah sakit.
"Jika orangtua tidak tahu dan tidak diterapi sejak dini misalnya dengan terapi berbicara maka gagap anak kemungkinan akan terbawa sampai dewasa. Dampaknya, akan mempengaruhi kecerdasan anak di masa yang akan datang. Anak jadi kurang cerdas," ujar dr Djayalangkara Tanra, SpKJ, Konsultan dari RS Dadi Makassar.
Makin dini diterapi, ujar Djayalangkara, maka kemungkinan anak sembuh juga makin besar.
Ada beberapa jenis gagap menurut fasenya. Ada gagap perkembangan, gagap sementara, dan gagap menetap. Gagap perkembangan biasanya terjadi pada usia 2-4 tahun. Kondisi ini tergolong wajar, karena merupakan rangkaian proses perkembangan bicara sang anak.
Ini bisa saja terjadi karena ketidaksinkronan emosi anak dengan pengaturan alat bicara saat berbicara. Gagap perkembangan biasanya akan sembuh dengan sendirinya seiring bertambahnya usia anak.
Adapun gagap sementara biasanya terjadi pada anak berusia 5-8 tahun. Gagap ini dapat terjadi karena faktor psikologis dari lingkungan, misal kecemasan, kepanikan, ketakutan. Jenis gagap ini akan lenyap sendiri meskipun tanpa terapi tertentu. Sebagai orang tua, kita hanya perlu bersabar dan jangan memarahi anak ketika menunjukkan gejala gagap.
Lain halnya dengan gagap menetap yang biasanya menimpa anak usia 8 tahun sampai dewasa, bahkan sampai usia lanjut. Jika terapi gagap tidak sembuh tuntas maka akan berlanjut hingga dewasa.
Penyebabnya karena psikologis, misal karena stres, kecemasan berlebihan, takut salah bicara, merasa rendah diri, merasa suaranya kurang enak didengar, merasa tidak percaya diri, dan faktor psikologis lainnya. (nin)
GAGAP BICARA pada ANAK
Stres Dapat Membuat Anak Gagap
Stres terhadap lingkungan dapat membuat anak gagap bicara. Bahkan seringnya anak memainkan permainan yang penuh tantangan dapat menguras pikiran anak dan membuatnya gagap.
Gagap bicara biasa juga disebut gangguan berkomunikasi yang terjadi pada anak umumnya usia 3-7 tahun. Gagap ditandai dengan tersendatnya pengucapan kata-kata atau rangkaian kalimat.
Kelainan ini dapat berupa kehilangan ide untuk mengeluarkan kata-kata, pengulangan beberapa suku kata, kesulitan mengeluarkan bunyi pada huruf-huruf tertentu, sampai dengan ketidakmampuan mengeluarkan kata-kata sama sekali.
Menurut dokter spesialis kesehatan jiwa Djayalangkara Tanra, anak gagap bicara disebabkan dua faktor, fisik dan psikologis termasuk dari lingkungan keluarga dan teman-teman.
Penyebab fisik menurut Ketua Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Unhas/RS Wahidin Sudirohusodo ini, karena dibawa anak sejak lahir yakni saat berada dalam kandungan ibu atau genetik.
Pengaruh genetik tersebut dapat disebabkan karena terjadi infeksi saat ibu sedang hamil. "Tak hanya faktor infeksi saat ibu mengandung tapi sekarang ini ada kebiasaan sebagian masyarakat kita mengonsumsi obat-obatan tanpa resep dokter. Termasuk jamu-jamuan, obat bebas yang makin banyak dijual bebas,"ujar Djayalangkara di Fakultas Kedokteran UMI, Jumat 20 Maret.
Kebiasaan mengonsumsi obat tersebut juga dapat memengaruhi perkembangan otak anak dan kemungkinan membuat anak gagap. Faktor keturunan atau genetik ini pada akhirnya dapat menyebabkan ketidaksempurnaan secara fisik seperti gangguan pada syaraf bicara, gangguan alat bicara, keterbatasan lidah.
Menurut Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FK UMI ini juga mengatakan, bahwa anak yang gagap bicara ini juga dapat terjadi karena faktor psikologis. Misalnya saja karena stres terhadap lingkungan sekitarnya.
Salah satu pemicu stres, kata dia adalah seringnya anak bermain game yang penuh tantangan dan berlevel-level seperti strategi perang, balapan dan game yang membutuhkan kerja otak secara berlebihan.
"Pada saat bermain, otak anak dipacu untuk bekerja berlebihan sehingga neurotransmitter bertambah sehingga tidak terjadi sinkron antara apa yang dipikirkan dan yang akan diucapkan," ujar pria kelahiran Makassar 21 Februari 1955 ini.
Tak hanya game, trauma, pertengkaran, kesedihan, kecemasan termasuk harus menyesuaikan diri terhadap lingkungan baru karena orangtua yang pindah-pindah tugas dapat memicu gagap bicara pada anak.
Faktor eksternal lain menurut Djayalangkara adalah faktor gizi yang kurang baik. Misalnya makanan yang tidak seimbang gizinya, sering mengonsumsi makanan fast food juga ikut berpengaruh. Padahal, lanjut dia, usia anak-anak adalah masa tumbuh kembang yang membutuhkan keseimbangan nutrisi.
Menurut penelitian, gagap lebih banyak disebabkan oleh faktor psikologis dibanding fisiologis. Misalnya, anak yang kedua orang tuanya sering bertengkar, sehingga membuat anak takut, cemas, sedih, dan sering menangis. Cara bicara yang gagap ketika menangis bisa menjadi "kebiasaan" sampai dewasa. (*)
Laporan: Angriani S. Ugart
Stres terhadap lingkungan dapat membuat anak gagap bicara. Bahkan seringnya anak memainkan permainan yang penuh tantangan dapat menguras pikiran anak dan membuatnya gagap.
Gagap bicara biasa juga disebut gangguan berkomunikasi yang terjadi pada anak umumnya usia 3-7 tahun. Gagap ditandai dengan tersendatnya pengucapan kata-kata atau rangkaian kalimat.
Kelainan ini dapat berupa kehilangan ide untuk mengeluarkan kata-kata, pengulangan beberapa suku kata, kesulitan mengeluarkan bunyi pada huruf-huruf tertentu, sampai dengan ketidakmampuan mengeluarkan kata-kata sama sekali.
Menurut dokter spesialis kesehatan jiwa Djayalangkara Tanra, anak gagap bicara disebabkan dua faktor, fisik dan psikologis termasuk dari lingkungan keluarga dan teman-teman.
Penyebab fisik menurut Ketua Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Unhas/RS Wahidin Sudirohusodo ini, karena dibawa anak sejak lahir yakni saat berada dalam kandungan ibu atau genetik.
Pengaruh genetik tersebut dapat disebabkan karena terjadi infeksi saat ibu sedang hamil. "Tak hanya faktor infeksi saat ibu mengandung tapi sekarang ini ada kebiasaan sebagian masyarakat kita mengonsumsi obat-obatan tanpa resep dokter. Termasuk jamu-jamuan, obat bebas yang makin banyak dijual bebas,"ujar Djayalangkara di Fakultas Kedokteran UMI, Jumat 20 Maret.
Kebiasaan mengonsumsi obat tersebut juga dapat memengaruhi perkembangan otak anak dan kemungkinan membuat anak gagap. Faktor keturunan atau genetik ini pada akhirnya dapat menyebabkan ketidaksempurnaan secara fisik seperti gangguan pada syaraf bicara, gangguan alat bicara, keterbatasan lidah.
Menurut Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FK UMI ini juga mengatakan, bahwa anak yang gagap bicara ini juga dapat terjadi karena faktor psikologis. Misalnya saja karena stres terhadap lingkungan sekitarnya.
Salah satu pemicu stres, kata dia adalah seringnya anak bermain game yang penuh tantangan dan berlevel-level seperti strategi perang, balapan dan game yang membutuhkan kerja otak secara berlebihan.
"Pada saat bermain, otak anak dipacu untuk bekerja berlebihan sehingga neurotransmitter bertambah sehingga tidak terjadi sinkron antara apa yang dipikirkan dan yang akan diucapkan," ujar pria kelahiran Makassar 21 Februari 1955 ini.
Tak hanya game, trauma, pertengkaran, kesedihan, kecemasan termasuk harus menyesuaikan diri terhadap lingkungan baru karena orangtua yang pindah-pindah tugas dapat memicu gagap bicara pada anak.
Faktor eksternal lain menurut Djayalangkara adalah faktor gizi yang kurang baik. Misalnya makanan yang tidak seimbang gizinya, sering mengonsumsi makanan fast food juga ikut berpengaruh. Padahal, lanjut dia, usia anak-anak adalah masa tumbuh kembang yang membutuhkan keseimbangan nutrisi.
Menurut penelitian, gagap lebih banyak disebabkan oleh faktor psikologis dibanding fisiologis. Misalnya, anak yang kedua orang tuanya sering bertengkar, sehingga membuat anak takut, cemas, sedih, dan sering menangis. Cara bicara yang gagap ketika menangis bisa menjadi "kebiasaan" sampai dewasa. (*)
Laporan: Angriani S. Ugart
Jumat, 20 Maret 2009
Robotic Surgery
Operasi Jantung dengan Robotic Surgery
Perkembangan ilmu kedokteran saat ini makin canggih. Inovasi teknologi terus dilakukan, termasuk dalam pemeriksaan dan penanganan terbaru pasien penyakit jantung. Kini, operasi jantung dapat dilakukan dalam keadaan jantung tetap berdetak. Bahkan, pasien pun hanya mendapat luka berupa lubang pembedahan. Itu karena robot canggih ikut dalam operasi jantung. Kemajuan baru dalam pemeriksaan dan penanganan (operasi) jantung kini bisa didapatkan di National Heart Centre (NHC) Singapore sebagai pusat rujukan di kawasan regional Asia. Penyelidikan dan penanganan operasi jantung bawaan juga sudah bisa dilakukan. Senior consultant NHC Singapura, Dr Lim Chong Hee membeberkan berbagai kemajuan baru penanganan penyakit jantung dalam seminar kesehatan bertajuk Manajemen Penanganan Jantung dan Gangguan Pencernaan, dalam rangkaian acara Customer Gathering Mandiri Prioritas dan Singhealth Singapore, di Hotel Mercure Makassar, Sabtu, 14 Maret. Untuk mendeteksi Penyakit Jantung Koroner (PJK) misalnya, diagnosa tak sekadar melihat kondisi fisik pasien, menggali riwayat kesehatan dan tes darah tapi juga dapat dilanjutkan dengan berbagai pemeriksaan lain. Semisal Electrocardiogram (ECG), Exercise Stress Test, Coronary Angiography, Echocardiogram dan CT Coronary Angiography. "Sekarang di NHC juga sudah ada deteksi yang lebih mendetail, dengan Nuclear Heart Scan atau MIBI Scan, Dobotamine Stress, maupun Cardiac MRI untuk melihat sejauhmana kerusakan otot jantung," beber Lim. Dari segi pembedahan bypass juga dapat mengganti arteri jantung dengan urat nadi arteri yang ada di kaki. Bahkan, ungkap pria asal Malaysia ini, kini di NHC operasi sudah dapat dilakukan meski kondisi jantung dalam keadaan masih berdebar atau berdetak. Di Singapura, kematian operasi kurang dari 2 persen. Selain kemajuan baru dalam intervensi PJK, Lim membeberkan bagaimana mengobati penyakit jantung katup. "Perkembangan teknologi kedokteran saat ini, digunakan robotic surgery. Kami juga menggunakan robot dalam operasi. Sehingga pasien hanya mengalami lubang kecil operasi pascapembedahana," ujar dokter spesialis jantung dan bedan thoraks ini. Dalam video yang dibawa Lim dari sebuah operasinya di NHC memperlihatkan bagaimana sebuah robotic surgery ikut dalam pembedahan bersama tim dokter. Dua tangan robot yang kecil bekerja dengan gesit namun cermat mengerjakan katup jantung. Di NHC, pasien dapat melakukan berbagai operasi jantung. Seperti bedah jantung konvensional, bedah jantung tanpa mesin pengganti fungsi jantung, bedah jantung bawaan, Maze Surgery for Atrial Fibrillation, bedah rekontruksi ventrikel kiri, transplantasi jantung, bedah katup jantung termasuk perbaikan dan penggantian katup. Menurut Lim, katup yang tidak berfungsi dengan benar dapat diperbaiki ataupun diganti. Pada saat operasi perbaikan katup, posisi katup tersebut diperbaiki sedemikian rupa sehingga dapat menutup dengan baik. Adapun untuk katup yang kerusakannya sudah terlalu parah, maka katup akan diganti dengan katup buatan. NHC sendiri bebernya, merupakan rumah sakit jantung pertama di Asia yang menerima akreditas Joint Commission International (JCI). (nin)
Perkembangan ilmu kedokteran saat ini makin canggih. Inovasi teknologi terus dilakukan, termasuk dalam pemeriksaan dan penanganan terbaru pasien penyakit jantung. Kini, operasi jantung dapat dilakukan dalam keadaan jantung tetap berdetak. Bahkan, pasien pun hanya mendapat luka berupa lubang pembedahan. Itu karena robot canggih ikut dalam operasi jantung. Kemajuan baru dalam pemeriksaan dan penanganan (operasi) jantung kini bisa didapatkan di National Heart Centre (NHC) Singapore sebagai pusat rujukan di kawasan regional Asia. Penyelidikan dan penanganan operasi jantung bawaan juga sudah bisa dilakukan. Senior consultant NHC Singapura, Dr Lim Chong Hee membeberkan berbagai kemajuan baru penanganan penyakit jantung dalam seminar kesehatan bertajuk Manajemen Penanganan Jantung dan Gangguan Pencernaan, dalam rangkaian acara Customer Gathering Mandiri Prioritas dan Singhealth Singapore, di Hotel Mercure Makassar, Sabtu, 14 Maret. Untuk mendeteksi Penyakit Jantung Koroner (PJK) misalnya, diagnosa tak sekadar melihat kondisi fisik pasien, menggali riwayat kesehatan dan tes darah tapi juga dapat dilanjutkan dengan berbagai pemeriksaan lain. Semisal Electrocardiogram (ECG), Exercise Stress Test, Coronary Angiography, Echocardiogram dan CT Coronary Angiography. "Sekarang di NHC juga sudah ada deteksi yang lebih mendetail, dengan Nuclear Heart Scan atau MIBI Scan, Dobotamine Stress, maupun Cardiac MRI untuk melihat sejauhmana kerusakan otot jantung," beber Lim. Dari segi pembedahan bypass juga dapat mengganti arteri jantung dengan urat nadi arteri yang ada di kaki. Bahkan, ungkap pria asal Malaysia ini, kini di NHC operasi sudah dapat dilakukan meski kondisi jantung dalam keadaan masih berdebar atau berdetak. Di Singapura, kematian operasi kurang dari 2 persen. Selain kemajuan baru dalam intervensi PJK, Lim membeberkan bagaimana mengobati penyakit jantung katup. "Perkembangan teknologi kedokteran saat ini, digunakan robotic surgery. Kami juga menggunakan robot dalam operasi. Sehingga pasien hanya mengalami lubang kecil operasi pascapembedahana," ujar dokter spesialis jantung dan bedan thoraks ini. Dalam video yang dibawa Lim dari sebuah operasinya di NHC memperlihatkan bagaimana sebuah robotic surgery ikut dalam pembedahan bersama tim dokter. Dua tangan robot yang kecil bekerja dengan gesit namun cermat mengerjakan katup jantung. Di NHC, pasien dapat melakukan berbagai operasi jantung. Seperti bedah jantung konvensional, bedah jantung tanpa mesin pengganti fungsi jantung, bedah jantung bawaan, Maze Surgery for Atrial Fibrillation, bedah rekontruksi ventrikel kiri, transplantasi jantung, bedah katup jantung termasuk perbaikan dan penggantian katup. Menurut Lim, katup yang tidak berfungsi dengan benar dapat diperbaiki ataupun diganti. Pada saat operasi perbaikan katup, posisi katup tersebut diperbaiki sedemikian rupa sehingga dapat menutup dengan baik. Adapun untuk katup yang kerusakannya sudah terlalu parah, maka katup akan diganti dengan katup buatan. NHC sendiri bebernya, merupakan rumah sakit jantung pertama di Asia yang menerima akreditas Joint Commission International (JCI). (nin)
Langganan:
Komentar (Atom)