Selasa, 25 September 2018

Fakta Gili Trawangan


Buat kamu yang ingin jalan-jalan ke Gili Trawangan. Cek di bawah ini!
·         
   Pemandangan eksotik yang dimiliki Gili Trawangan menjadi magnet wisatawan.Photo by Anggi S Ugart



                     Spot favorit saat sunset adalah berfoto di ayunan yang banyak berdiri di sepanjang pantai Gili Tarawang.  Mei 2018. Photo by Anggi S Ugart

• Pantai berpasir putih dengan beragam pilihan wisata air. Snorkeling, diving, surfing dan glass bottom boat.

• Didominasi turis asing. Itu karena di pulau ada berjejer hotel, resort, vila. Juga kafe dan bar yang berkonsep internasional dan butik ternama. Tarifnya pun beragam mulai Rp300 ribu hingga jutaan.

• Penduduk lokal tinggal di bagian tengah. Mereka menyerahkan lahan di tepi pantai untuk investor. Makanya banyak kafe dan hotel berjejer di pinggir pantai. Namun mereka tetap terlibat dengan mendirikan Koperasi Janur Indah.  Koperasi ini memiliki 40 unit cidomo.
(Data Mei 2018)

• Ada ATM Center. Tak perlu khawatir kehabisan uang tunai. Di Trawangan sudah ada ATM. Bayar di beberapa store pun bisa pakai credir or debet card.

• Tak ada kendaraan bermotor. Pulau ini bisa dibilang bebas asap kendaraan. Penduduk lokal maupun turis hanya menggunakan sepeda dan cidomo sebagai sarana transportasi.

• Diving. Ada banyak tempat di Gili Trawangan yang menawarkan dive tour, diving course berlisensi PADI, bahkan free diving dan marine walk.


Snorkeling di perairan antara Gili Trawangan dan Meno. Di sini, turis bisa melihat karang biru dan patung bawah laut berbentuk manusia karya seniman asal London. Mei 2018. Photo by Anggi S Ugart

• Sunrise Rinjani. Selain sunset, nikmati keindahan sunrise atau matahari terbit berlatar belakang Gunung Rinjani. 

• Karang biru langka. Hanya ada dua karang biru di dunia ini, yakni di Maldive dan Gili Trawangan, Indonesia! 
                                  Karang biru yang langka. Sumber: florentinaworo.wordpress
(anggi s ugart)


Cantiknya Karang Biru di Gili Meno



                      Kapal yang membawa turis menuju Gili Meno,tetangga Trawangan.Photo by Anggi

             Semua penasaran ingin menyaksikan keindahan alam bawah laut Gili Trawangan dan Meno.   Photo by Anggi

Keindahan pantai serta alam bawah laut tak hanya milik Gili Trawangan. Di Gili Meno justru menyimpan kecantikan alami. Dari Senggigi tepatnya Bangsal Anda juga bisa mencapainya dalam waktu satu jam. Sama jika Anda ingin menuju Trawangan.

Gili Meno memiliki kekayaan laut yang lebih beragam. Penulis sempat melihat keindahan karang biru yang tergolong langka di dunia. Sebab, karang biru hanya ada dua di dunia, Meno di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan di Laut Carribean. Warnanya biru terang. Ikan-ikan hias pun cantic. Ada angel fish dan ikan badut alias nemo.

Meno memiliki air yang jernih sebening kaca dan pantai pasir putih yang lebih eksotik dibanding dua gili tetangganya, Trawangan dan Air. Meno juga memiliki beragam biota laut yang masih alami baik dari jenis karang dan ikan. Daya tarik utamanya adalah berenang bersama penyu. Jangan lewatkan snorkeling, berenang, paddling, transparan kayaking atau berkeliling pulau dengan glass bottom boat.

           Berpose di perairan Gili Meno. Di bawah sana ada karang biru yang cantik tapi  langka.

Sayangnya, penulis tidak sempat kayaking maupun bertemu dengan penyu. Apalagi melihat danau yang berada di tengah Gili Meno. Soalnya lebih penasaran melihat patung berbentuk manusia karya Jason deCaires Taylor, seorang seniman patung kelahiran London Inggris.

Beberapa wisatawan bertumpuk di spot patung yang sempat menjadi kontroversi karena bentuknya yang dinilai vulgar. Ada yang sekadar melihat ada juga yang foto bersama patung.
                          Patung eksentrik di dasar perairan antara Gili Meno dan Trawangan.                                                                Photo by Radar Lombok
             

             Jason deCaires Taylor, seorang seniman patung kelahiran London Inggris yang membuat patung-patung tersebut. Ia juga seorang pemerhati lingkungan dan  fotografer profesional bawah laut. Sumber: suarantb.



Rasanya tak cukup sehari jika ingin traveling menjelajahi Gili Meno. Namun, jika Anda ingin ke Lombok, selain Gili Trawangan, mampirlah ke Gili Meno. Di sini, ada beberapa hotel bertarif lebih murah. Ada pula kafe dan restoran dengan menu beragam dan halal. (anggi s ugart)

Culinary Night at Gili Trawangan


Sajian Seafood dan Khas Lombok di Culinary Night



Selain tur sepeda dan cidomo keliling pulau, Anda juga bisa mencoba aktivitas lain yang paling disukai wisatawan mancanegara di Gili Trawangan. Snorkeling, diving, kayaking, melihat keindahan bawah laut dengan Glass Bottom Boat dan surfing.

Soal kuliner, Anda tak perlu cemas. Menu Asia, Prancis dan Italia pun disajikan oleh kafe maupun restoran yang berjejer di sepanjang pantai Gili Trawangan. Tetapi jika ingin hemat, Anda bisa membawa air mineral atau snack dari Mataram. Soalnya, harga di Trawangan bisa naik 3 kali lipat.

Saat sunset berlalu, keramaian Trawangan mulai terasa di malam hari. Jalan-jalan berpasir makin ramai oleh sepeda dan turis yang lalu lalang. Musik dari bar dan kafe riuh. “Makin malam di sini makin ramai, Mbak. 24 jam,”ujar Faturahman, driver Cidomo. Menurut dia, wisatawan kerap menggunakan jasa cidomo untuk transportasi. Tak kurang ada 40 unit cidomo yang dikelola oleh masyarakat lokal yang bergabung di koperasi Janur Indah.
Benar saja. Beberapa turis tampak bergegas menuju club malam. Ada dua pub yang tampaknya menggelar pesta di malam Minggu itu, Jiggy dan Jungle. Meski demikian, ada juga turis asing yang lebih memilih jalan-jalan saja. Dia adalah Claudia dan Patricia. Keduanya berasal dari Spanyol. “Kami di sini 15 hari. Jalan-jalan sama teman,” ujar Patricia. Dari Trawangan mereka masih akan ke Bali. Pantai, snorkeling dan fasilitas yang lengkap menjadi pemikat keduanya untuk datang ke Trawangan.
Apalagi di pulau kecil ini ada pasar malam atau culinary night yang menjajakan seafood dan menu khas Lombok seperti plecing dan sate. Anda bisa memilih seafood segar lalu dibakar dan dihidangkan dengan nasi. Tiga ekor udang besar seharga Rp100 ribu, cumi Rp50 ribu dan lobster dijual mulai Rp500 ribu hingga Rp900 ribu.
Selain seafood ada juga ayam taliwang, sate ikan dan sate ayam yang pedas. Juga ada plecing yang mirip urap. Harganya pun bersahabat. Dengan Rp10 ribu Anda sudah bisa mendapat tiga tusuk sate ayam. Anda tinggal pilih sesuai selera dan budget. (nin)



Menikmati Wisata di Gili Trawangan



Pulau Tanpa Kendaraan Bermotor

SUDAH punya pilihan tempat berlibur? Jika belum, bersiaplah menikmati keindahan sunset pantai berpasir putih Gili Trawangan dan cycling tour keliling pulau.

Gili Trawangan termasuk destinasi wisata yang populer di dunia yang memiliki sarana dan fasilitas modern. Namun udaranya bersih karena tak satu pun kendaraan bermotor yang penulis temui kecuali alat transportasi berupa sepeda dan cidomo. Di Makassar, kita menyebut cidomo ini dengan bendi atau delman.  

                           Cidomo yang bisa mengantar wisatawan tur keliling pulau. Photo by Anggi S Ugart

       Mereka menyewakan kudanya untuk dipakai berkeliling.Kuda ini sudah jinak lo! Photo by Anggi S Ugart

Lokasinya strategis, dekat Bali. Cukup 30 menit dengan fast boat dari Bali ke Trawangan. Fasilitas akomodasi, hiburan dan wisatanya berkelas inernasional. Meski demikian, keindahan pantai dan bawah lautnya serta warisan budaya begitu terjaga. Inilah yang menjadi magnet bagi wisatawan utamanya mancanegara. Sulawesi Selatan, pun sebenarnya memiliki pulau andalan yakni Samalona, Kodingareng Keke dan Kayangan, Camba Cambang dan Kapoposang.

                        Ini hotel terkenal yang kami tempati selama liputan di Trawangan
                                         

                          Salah satu fasilitas kolam renang yang dimiliki Vila Ombak..Photo by Anggi S Ugart


                                         Kamar tidur yang nyaman dan lengkap fasilitasnya. Photo by Anggi S Ugart

                      Ada beberapa tempat main catur di Ombak. Salah satunya ini nih. Jumbo size heheheh

                                         Berpose di depan salah ruang VIP Room

Hanya saja, kita kalah jauh dari segi pengelolaan. Fasilitas akomodasi mulai dari kelas bungalow hingga resort mewah bisa Anda temui. Tarifnya, Rp300 ribu per kamar hingga jutaan rupiah. Kafe, restoran, bar, club malam bertebaran di sepanjang pantai. Menunya pun internasional. Mulai Eropa, Italia dan Asia. Semua lengkap. Tak heran jika Telkomsel memilih Gili Trawangan sebagai lokasi Media Gathering Nasional 2018 pada 11-13 Mei lalu.

                         Kami start dari Pantai Mentigi menuju Trawangan.Photo by anggi s ugart


                         Rombongan Gathering Telkomsel siap start dari Mentigi ke Gili Trawangan

                      Ini di atas speed boat. Waktu tempuh Mentigi ke Trawangan hanya 15 menit.

Kami start dari pantai pasir putih, Mentigi Lombok Utara. Waktu tempuhnya hanya 10 menit dengan speet boat. Gili artinya pulau kecil. Awalnya, pulau yang secara administratif masuk ke Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ini adalah perkampungan nelayan.

 Kini, telah beralih wujud menjadi pulau wisata modern yang menawarkan berbagai paket akomodasi dan diving. Biasanya pada musim libur Juni hingga Agustus, traffic kunjungan wisatawan meningkat. Tak hanya ke Trawangan tetapi juga ke dua gili lainnya, Meno dan Gili Air. Apalagi jarak antara ketiga pulau ini hanya butuh waktu 10 menit dengan speed boat.
      
Turis asal Uruguay, Luis Alfredo menjadikan Trawangan sebagai destinasi keduanya setelah menjelajah keindahan Bali. Pantai pasir putih, sunset, dan kegiatan snorkeling menjadi favoritnya. Luis tidak sendiri. Dia bersama teman-temannya, Olga dan Gabriella. “Kami dari Bali dan menuju ke Trawangan. Kami di sini sudah hampir sepekan. Besok (Minggu) akan kembali ke Uruguay. Pantai di sini sangat cantik. Lautnya juga indah,” ujar Luis yang menjagokan tim sepak bola negaranya menjadi champions di World Cup 2018 di Rusia.
                               Dermaga Vila Ombak, Gili Trawangan. Photo by Anggi S Ugart


                             Dermaga Gili Trawangan. Cantiknya sudah terlihat. 

Kembali ke Trawangan. Jika memilih berangkat dari Mentigi ke Trawangan, Anda harus merogoh kocek Rp400 ribu untuk mencarter speed boat untuk satu kali jalan. Kapasitasnya, hanya 10 orang lengkap dengan life vest atau pelampung. Namun ada juga kapal yang berkapasitas hingga 20 orang. “Musim seperti ini sudah mulai ramai, Mbak. Juni sampai Agustus kebanyakan dari Eropa. Ada yang ke Trawangan ada juga yang ke Gili Meno dan ke Air. Jaraknya kan dekat dan sama-sama cantik pantainya,” ujar Boka, pemuda asli Lombok yang menjadi nakhoda speed boat.

   Keindahan pantai Gili Trawangan di pagi hari. Mei 2018. Photo by Anggi S. Ugart 



Sebenarnya, ada tiga gili yang terkenal wisatanya di Lombok yakni Trawangan, Meno dan Gili Air.Ketiga gili ini disebut juga Gili Matra dan masuk dalam kawasan Konservasi Perairan Nasional. Letaknya berjejer dan yang terdekat dengan Pulau Lombok adalah Air lalu Meno kemudian Trawangan.
Dibanding Air dan Meno, Gili Trawangan yang begitu populer. Trawangan tergolong yang paling luas dibanding kedua gili lainnya. Luasnya mencapai 340 hektare. Adapun Gili Air luasnya 188 hektare, dan Meno seluas 150 hektare. Di Meno inilah ada penangkaran penyu dan patung eksentrik berupa manusia yang berada di bawah permukaan laut. 
Di Trawangan, kita bisa memulai cycling tour atau bersepeda keliling pulau menuju sunset spot sepanjang 2,5 kilometer. Di Sunset spot nanti Anda akan menemui ayunan bertulis Ombak Sunset. Ini adalah ayunan pertama hadir di Trawangan dan hits di media sosial. Kini, ayunan serupa sudah banyak didirikan di pantai.  Di spot inilah, turis asing berderet menanti tenggelamnya matahari di peraduan.

                      Menanti sunset, para turis duduk di sepanjang pantai Trawangan. Photo by anggi s. ugart
                               




Penulis pun memilih cycling tour ketimbang cidomo. Lebih leluasa jika ingin mampir berfoto di spot foto yang indah. Tarif sewa sepeda juga murah, Rp50 ribu sekali sewa.Jika Anda memilih cidomo bersama teman-teman juga menarik. Satu kali naik, siapkan Rp300 ribu.  
Sepanjang perjalanan, Anda akan banyak menemui turis asing. Penduduk lokal berada di bagian tengah pulau. “Massage, Mbak,” ujar perempuan paruh baya berkulit sawo matang, tersenyum ramah. Saya memarkir sepeda. Mendekat dan melihat seorang perempuan muda lainnya sedang memijat seorang pria. 

                               Icip- icip jajanan traditional night market in Gili Trawangan.Photo by Anggi S Ugart


                 Turis sedang menikmati Massage dari Ibu Asia, warga asli Trawangan.Photo by Anggi S ugart

           Salah satu kafe di pantai Gili Trawangan. Tertata dan nyaman untuk bersantai. Beberapa                      diantaranya menyediakan screen untuk memutar film. Photo by Anggi S Ugart
                      Hewan itu harus disayang dulu, biar kita tidak terlempar hahahah. Apalagi baru kenal.

Menurut Asiah, perempuan yang menawarkan jasa pijat,satu kali pijat tarifnya Rp100 ribu per jam. Sebenarnya penasaran juga ingin mencoba pijatan khas Lombok , tetapi nanti sajalah. Masih ada acara berkuda dan main ayunan yang tak boleh dilewatkan jika berlibur di Trawangan.
Selain cycling tour dan cidomo, berkuda di sepanjang pantai wajib Anda coba. Bahkan Manager Corporate Communications Telkomsel Area IV  Pamasuka, Rina Dwi Noviani tak ketinggalan menunggangi kuda Lombok di pantai. "Seru nih, naik kuda di tepi pantai,"ujar wanita berjilbab ini tersenyum riang. (*)





Tugas Liputan di Gili Trawangan, Lombok Utara
11-13 Mei 2018

             Bertemu turis Uruguay. Ssst, mereka menjagokan Luis Suarez dan negaranya menang di                     World Cup 2018! Sayang, Suarez harus pulkam lebih awal ya. Bravo for Prancis dan Kroasia

                                           Meenikmati matahari pagi di pantai indah berpasir putih

                                                   Kembang kertas raksasa tumbuh indah di tengah Gili Trawangan
                                           
           
                                  Naik kuda asli Sumbawa. Tetapi gue beraninya hanya di tepi pantai
                                                              Thanks To Harian FAJAR dan Telkomsel

Aysha dan Maket Animal dari Lilin

Hai, aku Aysha.

Ini karya kakak Ariq Achtar, yang saat ini duduk di kelas III SD di Makassar. Ditugaskan bikin maket hewan dari lilin. Keren kan. Pasti dong! Kan dibantu sama Mama dan kaka Cicin.




Tuh kaka Ariq dan teman temannya di sekolah. 

Senin, 09 Juli 2018

Follow Me

Aysha Ailani makin imut dan pintar. Umur 2 tahun udah bisa ngomong mama, ga mau. Bisa hitung 1 sampai 10. Dia suka liat youtube lagu-lagu anak. hehehhe. Bapaknya nih yang ngajari pakai hape, dan berhitung.

Pake jilbab mama, kelihatan cantiknya.

Bareng sepupu di Sidrap pada Lebaran tahun lalu 2017

Naik sepeda bareng kakak cicin and ariq di sekitar perumahan di Sudiang 

Jumat, 02 Maret 2018

Putri Paling Imut

1 Maret 2016

Siang pkl 14.00 Wita, aku sedang makan siang bersama tiga jagoanku, Sirin, Ariq dan Abi. Perut terasa mulas. Ah, aku ingin BAK. Tapi pas di kamar kecil, tak hanya BAK tetapi juga ada darah yang keluar.
Aku yang sedang hamil 9 bulan anak keempat jadi waswas. Jangan-jangan pendarahan. Dan... memang benar adanya. Darah mengucur deras. Tertatih aku keluar dari kamar mandi dan berusaha duduk. Darah segar mengalir. Sirin dan Ariq aku minta ke tetangga meminta pertolongan.

Si Bapak baru saja tiba di UMI untuk menyelesaikan tesisnya. Jadinya, aku menelpon Dr Nusratuddin, dokter baik hati yang selama ini menangani 3 buah hatiku sebelumnya. "Maaf Nggi, saya masih di Jakarta. Ke RS Khadijah, disana ada asistenku," ujar Dr Nusrat di ujung telpon. "Baik, Dok,"

Padahal, rencananya pekan itu mau ke Dr Nusrat untuk cek terakhir sebelum operas secar keempat kalinya. Eh, gau tahunya udah pendarahan duluan. Tidak beberapa lama pertolongan datang. Aku sempat juga menelpon suami memberitahukan keadaanku.

Alhamdulillah, tetangga di BPS 2 begitu baik dan empati. Dengan sigap mereka mengemas barang keperluan ibu mau melahirkan. Ada yang mempersiapkan mobil. Ada yang mengurus tiga anakku.
Selang 1 jam kemudian, aku sudah berada di jalan tol menuju RS Khadijah yang berlokasi di JL RA Kartini, depan Lapangan Karebosi Makassar.

Tiba di RS Khadijah, dicek lagi. Diperiksa bukaan dan USG. Rasanya tak sabar segera masuk ruang operasi. Aku sangat khawatir anakku tidak bisa diselamatkan. Untungnya, aku masih merasakan gerakan lembutnya.

Darah yang terus menerus keluar membuatku lemas. Ada Mama Uni dan Om Edy yang menemani. Juga suamiku tersayang. Aku kembali menelpon dr Nusrat karena belum juga ada dokter spesialis yang menangani.

Satu  jam berlalu. Direktur RS Khadijah dr Nasruddin datang melihatku di Ruang UGD. Dia tersenyum ramah. Mencoba menjelaskan kondisiku dan juga resiko yang tengah kuhadapi.
"Pak, ibu harus segera dioperasi. Kemungkinan plasentanya lepas. Kemungkinan pula rahimnya diangkat." jelas Dr Nas kepada suamiku di ruang UGD. "Apapun yang terbaik untuk keduanya, silakan saja Dok," ujar suamiku.

Setelah 2 jam menanti akhirnya aku dibawa juga menggunakan kursi roda ke ruang operasi. Sarung yang kukenakan sudah penuh darah bahkan menetes hingga ke lantai. Ya, Allah aku pasrah, Asalkan anakku selamat!

Ini adalah kali keempat aku berbaring di meja operasi. Siap menjalani kemungkinan terburuk selama operasi cesar berjalan. Hawa di ruang operasi begitu dingin. Obat bius hanya mampu  mematikan bagian perut ke bawah.

Sekali lagi Dokter Nas menjelaskan penanganan yang akan dilakukan. Saya dan suamiku menjawab tegas. Lakukan apapun yang terbaik meski rahimku harus diangkat.  "Selain Plasenta Previa, ibu juga
plasentanya lepas sebagian. Inilah yang membuat pendarahan hebat," ujar Dr Nas. Aku tahu, plasenta penuh pembuluh darah yang menghubungkan ibu dan janin yang dikandungnya.Jika terlepas semuanya, maka bisa dipastikan, ibu dan anak akan mati. "Lima menit saja Ibu terlambat ditangani di sini, mungkin tidak bisa diselamatkan," ujar Dokter. Tetapi sekali lagi alhamdulillah kan aku masih bisa selamat hingga operasi berjalan.

Dokter akhirnya terpaksa mengangkat rahimku dan memperlihatkanya. Menurut dokter, rahimku  terus menerus mengeluarkan darah. Makin menipis. Dia khawatir setelah operasi dan dijahit, rahimku berdarah dan aku harus jalani operasi lagi. Aku dan suami ku pun memutuskan mengikuti anjuran dokter.  Rahimku harus diangkat. Ah, berat rasanya. Itu kan organ yang sangat berjasa selama ini. Organ pemberian Allah yang membedakan aku dengan laki-laki. Organ yang telah menjadi wadah bagi tumbuh kembangnya 4 anakku.

Ya Allah aku sangat berat melepasnya. Aku sampai menangis melihat rahim ku sudah tergeletak di sebuah wadah berupa mangkuk perak yang diperlihatkan dokter Nas. Aku menyuruh suamiku memotretnya. Selama ini, aku hanya bisa merasakan rahimku berkontraksi tetapi tidak bisa melihatnya. Baru dalam kondisi inilah aku bisa melihatnya langsung. Menggumpal pucat sebesar buah pepaya kecil. Ya Allah alhamdulillah Engkau telah memberikan aku rahim.

Dari rahimku ini telah memberikan aku haid, menjadi tempat hidup yang kuat dan nyaman untuk tumbuh bagi empat anakku. Terima kasih rahimku sayang. Sungguh beruntung rasanya saat  itu. Aku dan anakku selamat. Walaupun harus menunggu 1 hari 1 malam untuk menciumi wajah putri kecilku yang terlahir dengan berat 2,9 kg.

Aku tidak sempat menyentuhnya saat aku baru saja melahirkan di kamar operasi. Kecewa, pasti iya. Tapi demi kesehatannya dan aku, kami dipisah sehari semalam. Saat lahir tak kudengar suara tangisnya yang keras. Apa mungkin dia baik-baik saja? Tak hentinya aku menanyakan kondisi bayi kecilku pada sang suami. "Baik-baik ji adek," ujar suamiku menenangkan.

2 Maret 2016. Aku meminta suster untuk segera membawakan anakku. Pasti dia mungil. Tidak seperti kakaknya. Sirin lahir 3,8 kg, Ariq dan Abi masing-masing 3,5 kg. Montok saat lahir. Tapi si bungsu ini? Saat terakhir cek up kedokter berasnya baru 2,6 kg.

Akhirnya, si mungil itu datang. Suster RS Khadijah yang baik hati mengantarkanku ke ruang pemulihan. Ya, Allah alhamdulillah, Subhanallah. Ini bayi imut sekali. Senang sekaligus waswas saat dekat dia. Abis, tubuhnya imut banget. Infus masih terpasang sehingga agak menyulitkan pergerakanku.

Tetapi, tekadku hari itu adalah: Menyusui. Apapun yang terjadi. Alhamdullilah si imut dengan susah payah membuka mulutnya yang mungil untuk menyusu. Beberapa kali mencoba karena putingku agak besar, bayi imutku akhirnya nekad juga untuk menyusu. Demi kesehatan dan kekuatanmu ya Nak.

Kalau bayi lain suaranya kencang saat nangis, sebaliknya dengan anakku yang cantik ini. Suara nangisnya nyaris tak terdengar. Nanti seminggu baru kedengaran. Itupun masih kecil. Selamat datang ke dunia ya Nak.

Aku sampai tidak takut memandikannya saking imutnya. Cuma ngusap pakai air hangat. Sebulan baru deh aku memandikannya. Kamu tetap harum, Aysha Ailani Fathuddin. Nama yang cantik. Artinya, calon pemimpin yang bijaksana di jalan Allah. Semoga kelak hidupmu bahagia ya Nak. Selamat di dunia maupun akherat. Tetap teguh dalam iman dan di jalan tauhid.

Ini adalah Aysha usia 3 bulan.