Diving? Its My Lifestyle...!
SIAPA BILANG DIVING (MENYELAM) ITU SUSAH?
YUK, BERTUALANG dan MENCINTAI LAUT!
Kamu suka bermain di alam bebas? Penasaran dengan dunia bawah laut? Yuk, menyelam! Belajar nyelam atau diving itu mudah dan menyenangkan. Menyelam membuat sehat. Kamu juga bisa mengenal alam yang indah dan cinta lingkungan.
Perempuan maupun laki-laki bisa ikutan. Pengen seperti Nadine Candrawinata, yuk gabung di Pelatihan Menyelam untuk Remaja (Diving for Teenagers) yang digelar oleh Makassar Scuba Diving School (MSDS).
Syaratnya:
> Remaja usia 15 tahun ke atas.
> Bisa Renang.
> Membayar kontribusi sebesar Rp1,7 juta per orang
> Peserta minimal 8 orang dan maksimal 16 orang.
> Biaya pendaftaran: Rp15.000.
Fasilitas dan jadwal diving course:
> Akomodasi dan transportasi (Makassar-Pulau) selama pelatihan.
> Peralatan dan perlengkapan diving course selama pelatihan.
> Baju kaos dan stiker keren MSDS.
> Sertifikat diving international.
> Instruktur selam profesional dari Bali.
> Masa belajar: 4 hari (materi kelas dan selam di laut).
> Waktu: Minggu ketiga bulan Desember 2011.
Buruan menjadi remaja cerdas, berjiwa bebas dan cinta lingkungan!
Contact person:
* Riqki: 0813-3195-7585
* Fatah: 0811-416-441
Rabu, 07 Desember 2011
Selasa, 18 Oktober 2011
peri kecilku yg pintar....
FATIN NAJLA SIRIN...
Nama yang indah. Aku memanggilnya Sirin, artinya sahabat nabi. Usianya sekarang 3,9 tahun. Makin cerewet, makin kritis dan pintar membantu mama. Sejak kecil sirin sangat lincah. Ia tak jera untuk belajar jalan meski terjatuh beberapa kali. Saat pemandangannya terhalang jendela, ia mengangkat kursi kecil birunya lalu menaiknya pelan. Usianya saat itu baru 1,5 tahun. Lucu skali.
Rasanya waktu terasa cepat berlalu. Baru saja rasanya aku melahirkanya lewat caesar pada 25 November 2007 di RS Akademis, Makassar. Baru saja rasanya melihatnya menyusu sampai lelap. Terus ketika dipanggil "sayangi... sayangi mbo'eee.... oleh bapaknya, dia langsung mencabut susuannya lalu menengok. Waduh, lucu sekali.
Di usianya tiga bulan ia tengkurap. Lincah dan selalu menggapai jari-jariku saat akan diangkat. Tal heran, saat usia 6 bulan ia mulai duduk meski lingling kiri kanan. Ia mulai makanan padat pertamanya di usia 4 bulan. Pakai pisang ambon. Sirin juga suka jus jeruk buatan ku dan buatan eyangnya dari Jakarta.
Karena aku harus kerja, Sirin sering kutinggal. Tapi saat ada waktu, aku selalu meluangkan waktu bermain bersamanya. Tertawa dan bercanda. Sirin paling suka tidur kalau digendong. Ia akan terlelap kalau aku dan bapaknya menggendongnya. Malah eyangnya, memanjakannya dengan sering menggendongnya kalau mau bobo.
Bahkan sampai sekarang, Sirin suka minta"Mama, endong bobo...". Tapi panggilan itu sering aku abaikan karena aku sibuk mengerjakan pekerjaan rumah. Apalagi kalau aku mau berangkat kerja. Hatiku harus berkeras untuk menghiraukan rengekan anakku. Maafkan mama sayang....Tapi mama sangat sayang padamu. Mama harus kerja agar bisa makan, punya rumah bagus dan beli susu dan biaya sekolahmu kelak.
Oh ya, sirin anak yang tidak cengeng. Saat sakit demam, ia selalu terlihat tersenyum. Pernah sih dia sakit saat usianya belum setahun. Dia maunya aku gendong terus. Kalau sama bapaknya, dia tidak mau. Jadi sekitar tiga malam aku menggendongnya hingga tengah malam. Kalau digeletakin dia terbangun. Duh.. anak mama.
Usia dua dan tiga tahun, saat sakit pun dia tidak rewel kalau sakit. Tidak seperti adiknya Ariq yang suka nangis...
Sirin anak mama yang cantik... Maafin mama karena sering kasar ya Nak. Mama suka stres karena mama tak ada yang bantu di rumah. Usia dua tahun mama kerap berkata kasar. Bahkan mama tak jarang memberimu pukulan dan cubitan. Padahal aku tidak mau melakukannya. Emosi kadang membuatku gelap mata. Apalagi kalau aku stres karena capek dan ulah si bapak yang bikin kesal.
Sirin memang anak yang baik dan lucu. Kalau lihat mama dan bapaknya mau pergi, ia mengerti. Saat itu usianya baru menjelang dua tahun. Ia akan langsung ambil jaket dan topi ketika melihat aku dan bapaknya hendak keluar mengajaknya jalan. Ia akan tampil cantik karenanya.
Ia juga biasa membantu cuci piring. Bahkan di usianya sekarang sirin pernah mencuci satu baskom pakaiannya dan adiknya, Ariq. "Rin, lagi ngapain, Nak? tanyaku melihatnya masih berada di kamar mandi. "Sirin mau nyuci mama," jawabnya sembari mulai menyikat baju. Aku terharu dan meninggalkannya. Tak berapa lama aku masuk lagi. Dan dia masih mencuci. Sampai cucian itu kelar. "Biar mama bilas, ya sayang... "ujarku. Dia pun mengangguk. Pasti capek, ya," kataku.
Aku mengucapkan terima kasih padanya. Aku hanya tinggal membilas dan menjemur. Lalu aku berangkat kembali bekerja. Seperti aku tidak punya banyak waktu mengajariku kecuali saat aku libur: Senin. Padahal, Sirin kini sekolah di TKIT Imam Syafi'i di BTN Tirasa Sudiang. Yang mengajar ustazah. Sirin udah bisa baca huruf hijaiyah dan membaca latin walau sedikit. Ia juga diajari menulis, membaca, mengenal menulis dan lainnya.
Dia sangat lucu dan manis saat mengenakan baju muslim TK-nya yang berwarna hijau. Apalagi bajunya kebesaran. Kadang hatiku miris menyadari anakku membutuhkan perhatianku. Aku merasa bersalah saat membentaknya ketika aku sibuk mencuci atau mengepel dan minta ini dan itu. Mau ambil pembantu? Danaku tidak mencukupi. Aku harus bayar cicilan rumah, asuransi, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Suamiku kerjanya, dosen dan kerja proyek. Honor dosennya tidak mencukupi. Tapi alhamdulillah yang penting kan kerja. Kalau proyek konsultannya harus menunggu beberapa bulan dulu baru ada dananya. Jadi, aku harus kerja yang bulanan agar bisa memenuhi kebutuhan bulanan pula.
Sirin anakku cantik... tidak suka berdandan ini dan itu. Ia tak suka pakai bando. Kalau mau pergi-pergi dia bilang, Mama, ikut! Pakai baju cantik ya mama..." ujarnya. Ia lantas memilih bajunya sendiri. Aku membiarkannya. Toh, anak kecil juga punya pilihan sendiri. Ia juga tak pernah memilih baju tidurnya untuk jalan-jalan.
Sirin yang disekolahnya disapa Fatin ini juga tak pernah merengek apalagi menangis histeris saat diajak jalan ke mal. Dia jarang minta mainan ini dan itu. Akunya saja yang selalu menawarinya. Kalau ada mainan atau makanan yang disukainya, dan menurutku tidak bagus.. untuk kesehatannya, aku melarangnya. Ia akan mengerti saat aku menjelaskannya secara detail alasannya ku melarangnya.
Saat adiknya lahir, Sirin sepertinya dilanda cemburu. Tak heran aku kerap membentaknya ketika ia memukul adiknya. Bahkan ia sempat menarik adik bayinya, Duh, sayang...mama sayang juga sirin dan adik. Sekarang ia masih mengganggu adiknya kalau berdua. Tapi, saat ada yang mencolek atau mengganggu adiknya yang kini berusia 1,10 tahun, dia akan marah.
Nama yang indah. Aku memanggilnya Sirin, artinya sahabat nabi. Usianya sekarang 3,9 tahun. Makin cerewet, makin kritis dan pintar membantu mama. Sejak kecil sirin sangat lincah. Ia tak jera untuk belajar jalan meski terjatuh beberapa kali. Saat pemandangannya terhalang jendela, ia mengangkat kursi kecil birunya lalu menaiknya pelan. Usianya saat itu baru 1,5 tahun. Lucu skali.
Rasanya waktu terasa cepat berlalu. Baru saja rasanya aku melahirkanya lewat caesar pada 25 November 2007 di RS Akademis, Makassar. Baru saja rasanya melihatnya menyusu sampai lelap. Terus ketika dipanggil "sayangi... sayangi mbo'eee.... oleh bapaknya, dia langsung mencabut susuannya lalu menengok. Waduh, lucu sekali.
Di usianya tiga bulan ia tengkurap. Lincah dan selalu menggapai jari-jariku saat akan diangkat. Tal heran, saat usia 6 bulan ia mulai duduk meski lingling kiri kanan. Ia mulai makanan padat pertamanya di usia 4 bulan. Pakai pisang ambon. Sirin juga suka jus jeruk buatan ku dan buatan eyangnya dari Jakarta.
Karena aku harus kerja, Sirin sering kutinggal. Tapi saat ada waktu, aku selalu meluangkan waktu bermain bersamanya. Tertawa dan bercanda. Sirin paling suka tidur kalau digendong. Ia akan terlelap kalau aku dan bapaknya menggendongnya. Malah eyangnya, memanjakannya dengan sering menggendongnya kalau mau bobo.
Bahkan sampai sekarang, Sirin suka minta"Mama, endong bobo...". Tapi panggilan itu sering aku abaikan karena aku sibuk mengerjakan pekerjaan rumah. Apalagi kalau aku mau berangkat kerja. Hatiku harus berkeras untuk menghiraukan rengekan anakku. Maafkan mama sayang....Tapi mama sangat sayang padamu. Mama harus kerja agar bisa makan, punya rumah bagus dan beli susu dan biaya sekolahmu kelak.
Oh ya, sirin anak yang tidak cengeng. Saat sakit demam, ia selalu terlihat tersenyum. Pernah sih dia sakit saat usianya belum setahun. Dia maunya aku gendong terus. Kalau sama bapaknya, dia tidak mau. Jadi sekitar tiga malam aku menggendongnya hingga tengah malam. Kalau digeletakin dia terbangun. Duh.. anak mama.
Usia dua dan tiga tahun, saat sakit pun dia tidak rewel kalau sakit. Tidak seperti adiknya Ariq yang suka nangis...
Sirin anak mama yang cantik... Maafin mama karena sering kasar ya Nak. Mama suka stres karena mama tak ada yang bantu di rumah. Usia dua tahun mama kerap berkata kasar. Bahkan mama tak jarang memberimu pukulan dan cubitan. Padahal aku tidak mau melakukannya. Emosi kadang membuatku gelap mata. Apalagi kalau aku stres karena capek dan ulah si bapak yang bikin kesal.
Sirin memang anak yang baik dan lucu. Kalau lihat mama dan bapaknya mau pergi, ia mengerti. Saat itu usianya baru menjelang dua tahun. Ia akan langsung ambil jaket dan topi ketika melihat aku dan bapaknya hendak keluar mengajaknya jalan. Ia akan tampil cantik karenanya.
Ia juga biasa membantu cuci piring. Bahkan di usianya sekarang sirin pernah mencuci satu baskom pakaiannya dan adiknya, Ariq. "Rin, lagi ngapain, Nak? tanyaku melihatnya masih berada di kamar mandi. "Sirin mau nyuci mama," jawabnya sembari mulai menyikat baju. Aku terharu dan meninggalkannya. Tak berapa lama aku masuk lagi. Dan dia masih mencuci. Sampai cucian itu kelar. "Biar mama bilas, ya sayang... "ujarku. Dia pun mengangguk. Pasti capek, ya," kataku.
Aku mengucapkan terima kasih padanya. Aku hanya tinggal membilas dan menjemur. Lalu aku berangkat kembali bekerja. Seperti aku tidak punya banyak waktu mengajariku kecuali saat aku libur: Senin. Padahal, Sirin kini sekolah di TKIT Imam Syafi'i di BTN Tirasa Sudiang. Yang mengajar ustazah. Sirin udah bisa baca huruf hijaiyah dan membaca latin walau sedikit. Ia juga diajari menulis, membaca, mengenal menulis dan lainnya.
Dia sangat lucu dan manis saat mengenakan baju muslim TK-nya yang berwarna hijau. Apalagi bajunya kebesaran. Kadang hatiku miris menyadari anakku membutuhkan perhatianku. Aku merasa bersalah saat membentaknya ketika aku sibuk mencuci atau mengepel dan minta ini dan itu. Mau ambil pembantu? Danaku tidak mencukupi. Aku harus bayar cicilan rumah, asuransi, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Suamiku kerjanya, dosen dan kerja proyek. Honor dosennya tidak mencukupi. Tapi alhamdulillah yang penting kan kerja. Kalau proyek konsultannya harus menunggu beberapa bulan dulu baru ada dananya. Jadi, aku harus kerja yang bulanan agar bisa memenuhi kebutuhan bulanan pula.
Sirin anakku cantik... tidak suka berdandan ini dan itu. Ia tak suka pakai bando. Kalau mau pergi-pergi dia bilang, Mama, ikut! Pakai baju cantik ya mama..." ujarnya. Ia lantas memilih bajunya sendiri. Aku membiarkannya. Toh, anak kecil juga punya pilihan sendiri. Ia juga tak pernah memilih baju tidurnya untuk jalan-jalan.
Sirin yang disekolahnya disapa Fatin ini juga tak pernah merengek apalagi menangis histeris saat diajak jalan ke mal. Dia jarang minta mainan ini dan itu. Akunya saja yang selalu menawarinya. Kalau ada mainan atau makanan yang disukainya, dan menurutku tidak bagus.. untuk kesehatannya, aku melarangnya. Ia akan mengerti saat aku menjelaskannya secara detail alasannya ku melarangnya.
Saat adiknya lahir, Sirin sepertinya dilanda cemburu. Tak heran aku kerap membentaknya ketika ia memukul adiknya. Bahkan ia sempat menarik adik bayinya, Duh, sayang...mama sayang juga sirin dan adik. Sekarang ia masih mengganggu adiknya kalau berdua. Tapi, saat ada yang mencolek atau mengganggu adiknya yang kini berusia 1,10 tahun, dia akan marah.
pohonku sayang...
Kota ini terasa panas menyengat. Seperti matahari berada sejengkal di atas tanah. Apa karena pepohonan semakin berkurang? Apa karena rawa tadah hujan berganti rumah toko dan jalan-jalan baru. Setiap berangkat kerja ataupun beraktivitas, aku miris menyaksikan setiap hari pula pepohona berkurang. Ia ditebangi tanpa perasaan. Padahal, dia juga adalah makhluk hidup yang butuh tempat untuk hidup.
Alasan penebangannya sama: untuk rumah, toko hingga perkantoran. Ah, kalau saja aku punya uang banyak, aku tak akan menebangmu pohon, pemberi oksigen. Sudiang, lokasi dimana aku tinggal seperti makin gersang.
Aku hanya bisa berandai-andai. Andai aku punya uang lebih, sejumlah tanah di pinggiran Sudiang Raya aku sulap jadi taman teduh. Setiap orang yang membutuhkan keteduhan, konsentrasi, kedamaian dan canda tawa bersama keluarga bisa ke taman impianku itu. Mereka bisa memasang karpet di bawah rindang pohon mangga.
Menggelar aneka hidangan untuk disantap bersama keluarga. Atau membaca buku ditemani irisan buah segar. Atau bermain bersama binatang kesayangan di taman yang luas. Tapi sayang, aku tak punya uang untuk membeli tanah pada pemilik lahan tersebut. Yang berdiri hanya ruko-ruko yang kebanyakan kosong. Ruko itu berdiri tapi di sekitarnya tak ada kawasan pendidikan. Kalaupun ada hanya perkantoran yang juga sepi pegawai.
Makassar akan menjadi kota dunia. Kota dunia seperti apa? Kota dunia yang menciptakan udara kotor penuh karbondioksida. Menebang satu pohon saja itu sama artinya mengurangi oksigen. Artinya memberi beban bagi paruparu. Sama saja kan menurunkan derajat kesehatan warga Makassar.
Kota dunia seperti apa kalau sampah saja tak becus ditangani. Pemkot Makassar boleh saja memasang strategi ini dan itu. Tapi sebenarnya yang perlu diubah adalah cara pandang warga terhadap kebersihan. Pemkot tentu tak bisa mengelola sepenuhnya masalah persampahan. Tapi minimal mampu bekerja sama dengan pihak ketiga dalam pengelolaannya. Ini dilakukan negara-negara maju.
Masyarakat pun sepertinya belum siap untuk menjadikan kotanya berkelas dunia. Pohon yang ditanami tepi jalan dipasangi kayu dan paku. Pohon-pohon besar ditebang. Malah mereka masih kerap membuang sampah di sembarang tempat. Kebersihan dimulai dari sendiri lalu keluarga, masyarakat dan sebuah kota.
Alasan penebangannya sama: untuk rumah, toko hingga perkantoran. Ah, kalau saja aku punya uang banyak, aku tak akan menebangmu pohon, pemberi oksigen. Sudiang, lokasi dimana aku tinggal seperti makin gersang.
Aku hanya bisa berandai-andai. Andai aku punya uang lebih, sejumlah tanah di pinggiran Sudiang Raya aku sulap jadi taman teduh. Setiap orang yang membutuhkan keteduhan, konsentrasi, kedamaian dan canda tawa bersama keluarga bisa ke taman impianku itu. Mereka bisa memasang karpet di bawah rindang pohon mangga.
Menggelar aneka hidangan untuk disantap bersama keluarga. Atau membaca buku ditemani irisan buah segar. Atau bermain bersama binatang kesayangan di taman yang luas. Tapi sayang, aku tak punya uang untuk membeli tanah pada pemilik lahan tersebut. Yang berdiri hanya ruko-ruko yang kebanyakan kosong. Ruko itu berdiri tapi di sekitarnya tak ada kawasan pendidikan. Kalaupun ada hanya perkantoran yang juga sepi pegawai.
Makassar akan menjadi kota dunia. Kota dunia seperti apa? Kota dunia yang menciptakan udara kotor penuh karbondioksida. Menebang satu pohon saja itu sama artinya mengurangi oksigen. Artinya memberi beban bagi paruparu. Sama saja kan menurunkan derajat kesehatan warga Makassar.
Kota dunia seperti apa kalau sampah saja tak becus ditangani. Pemkot Makassar boleh saja memasang strategi ini dan itu. Tapi sebenarnya yang perlu diubah adalah cara pandang warga terhadap kebersihan. Pemkot tentu tak bisa mengelola sepenuhnya masalah persampahan. Tapi minimal mampu bekerja sama dengan pihak ketiga dalam pengelolaannya. Ini dilakukan negara-negara maju.
Masyarakat pun sepertinya belum siap untuk menjadikan kotanya berkelas dunia. Pohon yang ditanami tepi jalan dipasangi kayu dan paku. Pohon-pohon besar ditebang. Malah mereka masih kerap membuang sampah di sembarang tempat. Kebersihan dimulai dari sendiri lalu keluarga, masyarakat dan sebuah kota.
Langganan:
Komentar (Atom)