----------------------------------------------------------------------------
*Cara Negeri Jiran Promosikan Pariwisata
Undang Media 43 Negara, Bikin Cooking Class Bubur Kacang
Mengunjungi negeri Jiran Malaysia, seperti berada di rumah sendiri. Ini karena kemiripan bahasanya, kulturnya dan juga kondisi alamnya. Tapi ada satu hal yang berbeda. Mereka berani menggelontorkan anggaran ratusan miliaran rupiah untuk mengundang media dari 34 negara berjumlah 400 orang. Mereka mengemas acara brtajuk Mega Familirisation Colours of 1 Malaysia.
Laporan: Angriani S. Ugart
Dari Kuala Lumpur, Malaysia
Undangan dari Malaysia Tourisme Board (MTB) selama lima hari, mulai 16-20 Mei. Dari Indonesia, MTB mengundang lima media dan satu agen travel. Dari enam orang tersebut, lima dari Jakarta dan satu yakni penulis dari Kawasan Timur Indonesia. Rasanya penasaran juga melihat negara yang memiliki tagline Malaysia, Truly Asia. Benarkan seperti tagline tersebut. Seperti apa konsep yang ditawarkan oleh negeri Melayu ini.
Rombongan media dari Indonesia tiba hari Rabu, 16 Mei di Kuala Lumpur International Airport, sore hari. Tak ada yang membuat surprise sebenarnya dibanding Makassar. Hanya hamparan kebun kelapa sawit yang berada di sekitar kawasan bandara.
Tim kami dipimpin Yakaria Yacoob, MTB yang bertugas di Jakarta. Pria berkacamata ini cukup ramah. Sayangnya, dia hanya mendampingi pada hari terakhir karena memiliki kesibukan lain di bidangnya. Selama kami menyusuri kota Kuala Lumpur, kami media dari tanah air ini dikomandoi tour guide berlisensi Noisah Zainal Abidin. Meski sudah berstatus nenek, tapi perempuan yang fasih berbahasa Inggris sangat tegas dan ketat mengatur jadwal demi jadwal tour kami. Dia lincah bergerak. Paparannya begitu detail setiap menjelaskan tempat-tempat wisata yang kami tuju.
Selama di Kuala Lumpur (KL), kami diinapkan di hotel berbintang lima, Sheraton. Dari kamar hotel 2511 yang penulis tempati, Petronas Twin Towers terlihat begitu megah. Menara kembar yang pernah menjadi lokasi syuting film Entrapment yang dibintangi Catherina Zeta Jones, mengundang minat untuk menjajakinya. Seperti apa ya berada di salah satu gedung tertinggi dunia ini? Petronas memiliki 88 lantai dirancang oleh Cesar Pelli pada tahun 1998. Tingginya 452 meter dengan skybridge.
Oh ya kita kembali ke pariwisata Malaysia. Petronas akan menjadi cerita tersendiri dalam tulisan saya berikutnya. Seperti yang saya katakan tadi, Malaysia mengundang media baik cetak maupun elektronik maupun media online. Dari Indonesia, selain FAJAR, turut juga Detik.Com. Majalah Clara Indonesia, Trans7 dan Obaja Travel Jakarta. Negara lain yang diundang diantaranya, Thailand, Iran, India, Jepang, China, Korea, Australia, USA, Prancis, Italia, Belanda, Switzerland, Afrika Selatan dan beberapa negara lain. Jumlah media yang diundang 400 orang. Mereka diinapkan di hotel berbintang selama lima hari. Setiap rombongan dipimpin tour guide masing-masing.
Hari pertama kunjungan dihabiskan perjalanan dari Makassar, transit Jakarta dan sore harinya baru tiba di KL. Hari kedua berwisata, kami yang diantar oleh Stephen, sebagai driver warga keturunan China dan Noisah ke Little India di Jl Tun Sambathan, Chinatown, di Jl Pekeliling, dan Handicraft Complex, Jln Conlay. Sorenya, kami bertemu dengan para jurnalis lain di Hotel Sheraton.
*Cara Negeri Jiran Promosikan Pariwisata
Undang Media 43 Negara, Bikin Cooking Class Bubur Kacang
Mengunjungi negeri Jiran Malaysia, seperti berada di rumah sendiri. Ini karena kemiripan bahasanya, kulturnya dan juga kondisi alamnya. Tapi ada satu hal yang berbeda. Mereka berani menggelontorkan anggaran ratusan miliaran rupiah untuk mengundang media dari 34 negara berjumlah 400 orang. Mereka mengemas acara brtajuk Mega Familirisation Colours of 1 Malaysia.
Laporan: Angriani S. Ugart
Dari Kuala Lumpur, Malaysia
Undangan dari Malaysia Tourisme Board (MTB) selama lima hari, mulai 16-20 Mei. Dari Indonesia, MTB mengundang lima media dan satu agen travel. Dari enam orang tersebut, lima dari Jakarta dan satu yakni penulis dari Kawasan Timur Indonesia. Rasanya penasaran juga melihat negara yang memiliki tagline Malaysia, Truly Asia. Benarkan seperti tagline tersebut. Seperti apa konsep yang ditawarkan oleh negeri Melayu ini.
Rombongan media dari Indonesia tiba hari Rabu, 16 Mei di Kuala Lumpur International Airport, sore hari. Tak ada yang membuat surprise sebenarnya dibanding Makassar. Hanya hamparan kebun kelapa sawit yang berada di sekitar kawasan bandara.
Tim kami dipimpin Yakaria Yacoob, MTB yang bertugas di Jakarta. Pria berkacamata ini cukup ramah. Sayangnya, dia hanya mendampingi pada hari terakhir karena memiliki kesibukan lain di bidangnya. Selama kami menyusuri kota Kuala Lumpur, kami media dari tanah air ini dikomandoi tour guide berlisensi Noisah Zainal Abidin. Meski sudah berstatus nenek, tapi perempuan yang fasih berbahasa Inggris sangat tegas dan ketat mengatur jadwal demi jadwal tour kami. Dia lincah bergerak. Paparannya begitu detail setiap menjelaskan tempat-tempat wisata yang kami tuju.
Selama di Kuala Lumpur (KL), kami diinapkan di hotel berbintang lima, Sheraton. Dari kamar hotel 2511 yang penulis tempati, Petronas Twin Towers terlihat begitu megah. Menara kembar yang pernah menjadi lokasi syuting film Entrapment yang dibintangi Catherina Zeta Jones, mengundang minat untuk menjajakinya. Seperti apa ya berada di salah satu gedung tertinggi dunia ini? Petronas memiliki 88 lantai dirancang oleh Cesar Pelli pada tahun 1998. Tingginya 452 meter dengan skybridge.
Oh ya kita kembali ke pariwisata Malaysia. Petronas akan menjadi cerita tersendiri dalam tulisan saya berikutnya. Seperti yang saya katakan tadi, Malaysia mengundang media baik cetak maupun elektronik maupun media online. Dari Indonesia, selain FAJAR, turut juga Detik.Com. Majalah Clara Indonesia, Trans7 dan Obaja Travel Jakarta. Negara lain yang diundang diantaranya, Thailand, Iran, India, Jepang, China, Korea, Australia, USA, Prancis, Italia, Belanda, Switzerland, Afrika Selatan dan beberapa negara lain. Jumlah media yang diundang 400 orang. Mereka diinapkan di hotel berbintang selama lima hari. Setiap rombongan dipimpin tour guide masing-masing.
Hari pertama kunjungan dihabiskan perjalanan dari Makassar, transit Jakarta dan sore harinya baru tiba di KL. Hari kedua berwisata, kami yang diantar oleh Stephen, sebagai driver warga keturunan China dan Noisah ke Little India di Jl Tun Sambathan, Chinatown, di Jl Pekeliling, dan Handicraft Complex, Jln Conlay. Sorenya, kami bertemu dengan para jurnalis lain di Hotel Sheraton.
Menariknya, Malaysia menarik minat wisatawan lewat tulisan media dengan mengandalkan tiga khas Asia, yakni makanan, budaya membatik dan tari. Saya dan teman dari Obaja Travel, Yanti mengikut acara Cooking Class. Di kelas ini, kami diajari cara membuat makanan khas Malaysia yakni Roti Canai. Ya, makanan ini memang cukup baru di lidah. Tapi ada menu dessert lain yang sudah akrab, yakni bubur kacang.
"Ini sih sama dengan makanan Indonesia. Kalau di negeri kami, disebut bubur kacang ijo, " ujar saya kepada Akkarin, teman satu kelompok memasak dari Thailand. Akkarin yang fasih berbahasa Inggris ini langsung tertarik untuk mengunjungi Nusantara. Apalagi saat saya mempromosikan masakan dan adat khas Makassar. Meksi tak mendapat juara cooking class, tapi senang juga bisa berkenalan dan foto bareng dengan teman-teman media dari negeri lain.
Teman saya dari Jakarta, yakni Maria Sabtadina Rahardianti (reporter Trans7) dan Debbie Shintia Oktora dari Majalah Clara Indonesia mengikuti Dancing Class. "Namanya Tari Cuti-cuti. Ya, mirip-mirip dikit konsepnya dengan Tari Poco-poco di Indonesia," ujar Debbie. Sedangkan parner Maria, fotografer Trans7, Dominicus Aryp Marwianto lebih memilih mengabadikan even tersebut.
Hasilnya, Maria yang akrab disapa Mery dan Debbie terpilih dalam 10 orang dalam even “Test your Dance Skill” di acara cultural perfomance pada malam harinya.
Kelihaian Malaysia mengemas pariwisatanya dipuji Debbie. "Kementerian Pariwisata mereka benar-benar serius menggarapnya. Kalau dibandingkan objek wisata, Indonesia lebih elok tapi PR (Public Relation, red) mereka sangat pintar. Bahkan mereka tak segan mengundang media dari berbagai negara. Biaya tentu sangat besar. Sedangkan kita? Pemimpin lebih sibuk urus korupsi dan politik," cetus Debbie.
Sore hari sebelum dinner bersama jajaran Kementerian Pariwisata Malaysia, digelar presentasi oleh The Acting Director General of Tourism Malaysia, Dato’ Haji Azizan Noordin. Noordin memaparkan bahwa acara yang digelar sejak tahun 1990 tersebut mampu menarik turis 2 juta orang. Tahun ini, Malaysia menargetkan angka di atas tersebut. Beragam tempat wisata pun dipresentasekan dalam bentuk video. Seperti Botani Garden, Kawasan Putrajaya, Gunung Kinabalu, Langkawi Island, beberapa Dive Site termasuk di Sipadan.
Mereka juga memiliki cara untuk mengenalkan lebih dekat budaya melayu kepada turis dengan cara homestay selama beberapa hari. Hingga saat ini, homestay yang dikenalkan sejak tahun 1995 ini terdiri dari 3.082 rumah tersebar di 235 desa. Selama homestay, para turis diajarkan makanan khas Malaysia, cara berdandan seperti make up wedding, hingga tarian dan budaya khas lainnya.
Mengikuti jejak Singapura yang juga mengandalkan kawasan shopping, Malaysia menawarkan Bintang Walk atau Bukit Bintang. Beberapa shopping mall mulai dari Sungai Wang yang kerap didatangi turis asal Indonesia hingga Pavilion dan Fahrenheit serta mal lain yang menawarkan produk berkualitas dan bermerek.
Mereka juga menyediakan kemudahan transportasi dengan Rapid KL yakni monorail, Hop On-Hop Off City Tour Bus serta Heli Joy Ride bagi yang ingin melihat Malaysia dari udara.
Malam harinya, saat dinner time bersama media dan beberapa pejabat kementerian, ditampilkan tarian budaya Malaysia dari berbagai distrik. Tentu saja, Debbie dan Maria ambil bagian saat pentas Tari Cuti-cuti. Dari semua tari yang ditampilkan sedikit beragam: rancak, bersemangat dan selalu ada teriakan-teriakan oleh penari. Ya, mirip dengan suara penari khas asal Papua.
Setiap media juga diberikan sertifikat atas keikutsertaannya dalam Mega Fam Programme tersebut.
Hari berikutnya, kami diajak berkunjung ke kawasan administrasi pemerintahan Malaysia yang disebut Putrajaya.
Di tempat ini, kami diperlihatkan jembatan Mahathir yang melintas di atas danau buatan. Di kawasan Selangor Putrajaya inilah terletak kompleks pemerintahan Malaysia. Di tempat ini terdapat Kantor Perdana Menteri Najib Tun Abdul Razak yang dijuluki Bapak Transformasi. Di tempat ini juga disajikan kemegahan Blue Mosque. Kami juga sempat melintasi Putrajaya Lake dengan Cruise Tasik Putrajaya.
Tak ketinggalan, rombongan kami dibawa ke Istana Lama yang dihuni Yang Di-Pertuan Agong XIV Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong Almu'tasimu Billahi Muhibbuddin Tuanku Alhaj Abdul Halim Mu'adzam Shah Ibni Almarhum Sultan Badlishah.
Raja ke-14 ini kini telah pindah ke istana baru di kawasan Selangor sejak Desember 2011. Istana yang memamerkan duplikat mahkota dan busana kerajaan ini dibuka untuk umum. Tapi hanya ruang balairung saja. Kami juga diajak ke Istana baru Raja Malaysia di Selangor.
Esok harinya, di luar jadwal tur MTB, kami pelancong dari Indonesia ke Petronas Twin Towers. Sore harinya, usai early dinner di Saloma Bistro kami bersama jurnalis lain diberangkatkan dengan bus menuju kawasan Dataran Merdeka. Kawasan yang dulunya menjadi pusat administrasi Kerajaan Inggris ini digelar Colours of 1Malaysia. Berbagai parade andalan wisata yang ditawarkan secara silih berganti di hadapan media dan petinggi pariwisata. Acara itu dibuka oleh Menteri Pariwisata Dato Sri Ng Yen Yen. Saya seperti melihat karnaval budaya Sulsel. Malaysia bisa dikatakan sukses mengemas pariwisatanya dengan beragam budaya, makanan dan shopping mall. Bagaimana dengan Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan? (*)
Teman saya dari Jakarta, yakni Maria Sabtadina Rahardianti (reporter Trans7) dan Debbie Shintia Oktora dari Majalah Clara Indonesia mengikuti Dancing Class. "Namanya Tari Cuti-cuti. Ya, mirip-mirip dikit konsepnya dengan Tari Poco-poco di Indonesia," ujar Debbie. Sedangkan parner Maria, fotografer Trans7, Dominicus Aryp Marwianto lebih memilih mengabadikan even tersebut.
Hasilnya, Maria yang akrab disapa Mery dan Debbie terpilih dalam 10 orang dalam even “Test your Dance Skill” di acara cultural perfomance pada malam harinya.
Kelihaian Malaysia mengemas pariwisatanya dipuji Debbie. "Kementerian Pariwisata mereka benar-benar serius menggarapnya. Kalau dibandingkan objek wisata, Indonesia lebih elok tapi PR (Public Relation, red) mereka sangat pintar. Bahkan mereka tak segan mengundang media dari berbagai negara. Biaya tentu sangat besar. Sedangkan kita? Pemimpin lebih sibuk urus korupsi dan politik," cetus Debbie.
Sore hari sebelum dinner bersama jajaran Kementerian Pariwisata Malaysia, digelar presentasi oleh The Acting Director General of Tourism Malaysia, Dato’ Haji Azizan Noordin. Noordin memaparkan bahwa acara yang digelar sejak tahun 1990 tersebut mampu menarik turis 2 juta orang. Tahun ini, Malaysia menargetkan angka di atas tersebut. Beragam tempat wisata pun dipresentasekan dalam bentuk video. Seperti Botani Garden, Kawasan Putrajaya, Gunung Kinabalu, Langkawi Island, beberapa Dive Site termasuk di Sipadan.
Mereka juga memiliki cara untuk mengenalkan lebih dekat budaya melayu kepada turis dengan cara homestay selama beberapa hari. Hingga saat ini, homestay yang dikenalkan sejak tahun 1995 ini terdiri dari 3.082 rumah tersebar di 235 desa. Selama homestay, para turis diajarkan makanan khas Malaysia, cara berdandan seperti make up wedding, hingga tarian dan budaya khas lainnya.
Mengikuti jejak Singapura yang juga mengandalkan kawasan shopping, Malaysia menawarkan Bintang Walk atau Bukit Bintang. Beberapa shopping mall mulai dari Sungai Wang yang kerap didatangi turis asal Indonesia hingga Pavilion dan Fahrenheit serta mal lain yang menawarkan produk berkualitas dan bermerek.
Mereka juga menyediakan kemudahan transportasi dengan Rapid KL yakni monorail, Hop On-Hop Off City Tour Bus serta Heli Joy Ride bagi yang ingin melihat Malaysia dari udara.
Malam harinya, saat dinner time bersama media dan beberapa pejabat kementerian, ditampilkan tarian budaya Malaysia dari berbagai distrik. Tentu saja, Debbie dan Maria ambil bagian saat pentas Tari Cuti-cuti. Dari semua tari yang ditampilkan sedikit beragam: rancak, bersemangat dan selalu ada teriakan-teriakan oleh penari. Ya, mirip dengan suara penari khas asal Papua.
Setiap media juga diberikan sertifikat atas keikutsertaannya dalam Mega Fam Programme tersebut.
Hari berikutnya, kami diajak berkunjung ke kawasan administrasi pemerintahan Malaysia yang disebut Putrajaya.
Di tempat ini, kami diperlihatkan jembatan Mahathir yang melintas di atas danau buatan. Di kawasan Selangor Putrajaya inilah terletak kompleks pemerintahan Malaysia. Di tempat ini terdapat Kantor Perdana Menteri Najib Tun Abdul Razak yang dijuluki Bapak Transformasi. Di tempat ini juga disajikan kemegahan Blue Mosque. Kami juga sempat melintasi Putrajaya Lake dengan Cruise Tasik Putrajaya.
Tak ketinggalan, rombongan kami dibawa ke Istana Lama yang dihuni Yang Di-Pertuan Agong XIV Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong Almu'tasimu Billahi Muhibbuddin Tuanku Alhaj Abdul Halim Mu'adzam Shah Ibni Almarhum Sultan Badlishah.
Raja ke-14 ini kini telah pindah ke istana baru di kawasan Selangor sejak Desember 2011. Istana yang memamerkan duplikat mahkota dan busana kerajaan ini dibuka untuk umum. Tapi hanya ruang balairung saja. Kami juga diajak ke Istana baru Raja Malaysia di Selangor.
Esok harinya, di luar jadwal tur MTB, kami pelancong dari Indonesia ke Petronas Twin Towers. Sore harinya, usai early dinner di Saloma Bistro kami bersama jurnalis lain diberangkatkan dengan bus menuju kawasan Dataran Merdeka. Kawasan yang dulunya menjadi pusat administrasi Kerajaan Inggris ini digelar Colours of 1Malaysia. Berbagai parade andalan wisata yang ditawarkan secara silih berganti di hadapan media dan petinggi pariwisata. Acara itu dibuka oleh Menteri Pariwisata Dato Sri Ng Yen Yen. Saya seperti melihat karnaval budaya Sulsel. Malaysia bisa dikatakan sukses mengemas pariwisatanya dengan beragam budaya, makanan dan shopping mall. Bagaimana dengan Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan? (*)