Jumat, 02 Maret 2018

Putri Paling Imut

1 Maret 2016

Siang pkl 14.00 Wita, aku sedang makan siang bersama tiga jagoanku, Sirin, Ariq dan Abi. Perut terasa mulas. Ah, aku ingin BAK. Tapi pas di kamar kecil, tak hanya BAK tetapi juga ada darah yang keluar.
Aku yang sedang hamil 9 bulan anak keempat jadi waswas. Jangan-jangan pendarahan. Dan... memang benar adanya. Darah mengucur deras. Tertatih aku keluar dari kamar mandi dan berusaha duduk. Darah segar mengalir. Sirin dan Ariq aku minta ke tetangga meminta pertolongan.

Si Bapak baru saja tiba di UMI untuk menyelesaikan tesisnya. Jadinya, aku menelpon Dr Nusratuddin, dokter baik hati yang selama ini menangani 3 buah hatiku sebelumnya. "Maaf Nggi, saya masih di Jakarta. Ke RS Khadijah, disana ada asistenku," ujar Dr Nusrat di ujung telpon. "Baik, Dok,"

Padahal, rencananya pekan itu mau ke Dr Nusrat untuk cek terakhir sebelum operas secar keempat kalinya. Eh, gau tahunya udah pendarahan duluan. Tidak beberapa lama pertolongan datang. Aku sempat juga menelpon suami memberitahukan keadaanku.

Alhamdulillah, tetangga di BPS 2 begitu baik dan empati. Dengan sigap mereka mengemas barang keperluan ibu mau melahirkan. Ada yang mempersiapkan mobil. Ada yang mengurus tiga anakku.
Selang 1 jam kemudian, aku sudah berada di jalan tol menuju RS Khadijah yang berlokasi di JL RA Kartini, depan Lapangan Karebosi Makassar.

Tiba di RS Khadijah, dicek lagi. Diperiksa bukaan dan USG. Rasanya tak sabar segera masuk ruang operasi. Aku sangat khawatir anakku tidak bisa diselamatkan. Untungnya, aku masih merasakan gerakan lembutnya.

Darah yang terus menerus keluar membuatku lemas. Ada Mama Uni dan Om Edy yang menemani. Juga suamiku tersayang. Aku kembali menelpon dr Nusrat karena belum juga ada dokter spesialis yang menangani.

Satu  jam berlalu. Direktur RS Khadijah dr Nasruddin datang melihatku di Ruang UGD. Dia tersenyum ramah. Mencoba menjelaskan kondisiku dan juga resiko yang tengah kuhadapi.
"Pak, ibu harus segera dioperasi. Kemungkinan plasentanya lepas. Kemungkinan pula rahimnya diangkat." jelas Dr Nas kepada suamiku di ruang UGD. "Apapun yang terbaik untuk keduanya, silakan saja Dok," ujar suamiku.

Setelah 2 jam menanti akhirnya aku dibawa juga menggunakan kursi roda ke ruang operasi. Sarung yang kukenakan sudah penuh darah bahkan menetes hingga ke lantai. Ya, Allah aku pasrah, Asalkan anakku selamat!

Ini adalah kali keempat aku berbaring di meja operasi. Siap menjalani kemungkinan terburuk selama operasi cesar berjalan. Hawa di ruang operasi begitu dingin. Obat bius hanya mampu  mematikan bagian perut ke bawah.

Sekali lagi Dokter Nas menjelaskan penanganan yang akan dilakukan. Saya dan suamiku menjawab tegas. Lakukan apapun yang terbaik meski rahimku harus diangkat.  "Selain Plasenta Previa, ibu juga
plasentanya lepas sebagian. Inilah yang membuat pendarahan hebat," ujar Dr Nas. Aku tahu, plasenta penuh pembuluh darah yang menghubungkan ibu dan janin yang dikandungnya.Jika terlepas semuanya, maka bisa dipastikan, ibu dan anak akan mati. "Lima menit saja Ibu terlambat ditangani di sini, mungkin tidak bisa diselamatkan," ujar Dokter. Tetapi sekali lagi alhamdulillah kan aku masih bisa selamat hingga operasi berjalan.

Dokter akhirnya terpaksa mengangkat rahimku dan memperlihatkanya. Menurut dokter, rahimku  terus menerus mengeluarkan darah. Makin menipis. Dia khawatir setelah operasi dan dijahit, rahimku berdarah dan aku harus jalani operasi lagi. Aku dan suami ku pun memutuskan mengikuti anjuran dokter.  Rahimku harus diangkat. Ah, berat rasanya. Itu kan organ yang sangat berjasa selama ini. Organ pemberian Allah yang membedakan aku dengan laki-laki. Organ yang telah menjadi wadah bagi tumbuh kembangnya 4 anakku.

Ya Allah aku sangat berat melepasnya. Aku sampai menangis melihat rahim ku sudah tergeletak di sebuah wadah berupa mangkuk perak yang diperlihatkan dokter Nas. Aku menyuruh suamiku memotretnya. Selama ini, aku hanya bisa merasakan rahimku berkontraksi tetapi tidak bisa melihatnya. Baru dalam kondisi inilah aku bisa melihatnya langsung. Menggumpal pucat sebesar buah pepaya kecil. Ya Allah alhamdulillah Engkau telah memberikan aku rahim.

Dari rahimku ini telah memberikan aku haid, menjadi tempat hidup yang kuat dan nyaman untuk tumbuh bagi empat anakku. Terima kasih rahimku sayang. Sungguh beruntung rasanya saat  itu. Aku dan anakku selamat. Walaupun harus menunggu 1 hari 1 malam untuk menciumi wajah putri kecilku yang terlahir dengan berat 2,9 kg.

Aku tidak sempat menyentuhnya saat aku baru saja melahirkan di kamar operasi. Kecewa, pasti iya. Tapi demi kesehatannya dan aku, kami dipisah sehari semalam. Saat lahir tak kudengar suara tangisnya yang keras. Apa mungkin dia baik-baik saja? Tak hentinya aku menanyakan kondisi bayi kecilku pada sang suami. "Baik-baik ji adek," ujar suamiku menenangkan.

2 Maret 2016. Aku meminta suster untuk segera membawakan anakku. Pasti dia mungil. Tidak seperti kakaknya. Sirin lahir 3,8 kg, Ariq dan Abi masing-masing 3,5 kg. Montok saat lahir. Tapi si bungsu ini? Saat terakhir cek up kedokter berasnya baru 2,6 kg.

Akhirnya, si mungil itu datang. Suster RS Khadijah yang baik hati mengantarkanku ke ruang pemulihan. Ya, Allah alhamdulillah, Subhanallah. Ini bayi imut sekali. Senang sekaligus waswas saat dekat dia. Abis, tubuhnya imut banget. Infus masih terpasang sehingga agak menyulitkan pergerakanku.

Tetapi, tekadku hari itu adalah: Menyusui. Apapun yang terjadi. Alhamdullilah si imut dengan susah payah membuka mulutnya yang mungil untuk menyusu. Beberapa kali mencoba karena putingku agak besar, bayi imutku akhirnya nekad juga untuk menyusu. Demi kesehatan dan kekuatanmu ya Nak.

Kalau bayi lain suaranya kencang saat nangis, sebaliknya dengan anakku yang cantik ini. Suara nangisnya nyaris tak terdengar. Nanti seminggu baru kedengaran. Itupun masih kecil. Selamat datang ke dunia ya Nak.

Aku sampai tidak takut memandikannya saking imutnya. Cuma ngusap pakai air hangat. Sebulan baru deh aku memandikannya. Kamu tetap harum, Aysha Ailani Fathuddin. Nama yang cantik. Artinya, calon pemimpin yang bijaksana di jalan Allah. Semoga kelak hidupmu bahagia ya Nak. Selamat di dunia maupun akherat. Tetap teguh dalam iman dan di jalan tauhid.

Ini adalah Aysha usia 3 bulan.