Selasa, 18 Oktober 2011

pohonku sayang...

Kota ini terasa panas menyengat. Seperti matahari berada sejengkal di atas tanah. Apa karena pepohonan semakin berkurang? Apa karena rawa tadah hujan berganti rumah toko dan jalan-jalan baru. Setiap berangkat kerja ataupun beraktivitas, aku miris menyaksikan setiap hari pula pepohona berkurang. Ia ditebangi tanpa perasaan. Padahal, dia juga adalah makhluk hidup yang butuh tempat untuk hidup.
Alasan penebangannya sama: untuk rumah, toko hingga perkantoran. Ah, kalau saja aku punya uang banyak, aku tak akan menebangmu pohon, pemberi oksigen. Sudiang, lokasi dimana aku tinggal seperti makin gersang.

Aku hanya bisa berandai-andai. Andai aku punya uang lebih, sejumlah tanah di pinggiran Sudiang Raya aku sulap jadi taman teduh. Setiap orang yang membutuhkan keteduhan, konsentrasi, kedamaian dan canda tawa bersama keluarga bisa ke taman impianku itu. Mereka bisa memasang karpet di bawah rindang pohon mangga.

Menggelar aneka hidangan untuk disantap bersama keluarga. Atau membaca buku ditemani irisan buah segar. Atau bermain bersama binatang kesayangan di taman yang luas. Tapi sayang, aku tak punya uang untuk membeli tanah pada pemilik lahan tersebut. Yang berdiri hanya ruko-ruko yang kebanyakan kosong. Ruko itu berdiri tapi di sekitarnya tak ada kawasan pendidikan. Kalaupun ada hanya perkantoran yang juga sepi pegawai.

Makassar akan menjadi kota dunia. Kota dunia seperti apa? Kota dunia yang menciptakan udara kotor penuh karbondioksida. Menebang satu pohon saja itu sama artinya mengurangi oksigen. Artinya memberi beban bagi paruparu. Sama saja kan menurunkan derajat kesehatan warga Makassar.

Kota dunia seperti apa kalau sampah saja tak becus ditangani. Pemkot Makassar boleh saja memasang strategi ini dan itu. Tapi sebenarnya yang perlu diubah adalah cara pandang warga terhadap kebersihan. Pemkot tentu tak bisa mengelola sepenuhnya masalah persampahan. Tapi minimal mampu bekerja sama dengan pihak ketiga dalam pengelolaannya. Ini dilakukan negara-negara maju.

Masyarakat pun sepertinya belum siap untuk menjadikan kotanya berkelas dunia. Pohon yang ditanami tepi jalan dipasangi kayu dan paku. Pohon-pohon besar ditebang. Malah mereka masih kerap membuang sampah di sembarang tempat. Kebersihan dimulai dari sendiri lalu keluarga, masyarakat dan sebuah kota.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar